Sunday, December 2, 2012

Seri 7 Perjalanan ke Universal Studio Japan, DRI dan Mosaic di Pelabuhan Kobe 29 Agustus 2012



Seri 7 Perjalanan ke Universal Studio Japan, DRI dan Mosaic di Pelabuhan Kobe 29 Agustus 2012
(Tulisan ini sudah dipublikasikan pada beberapa millis tanggal 29 Agustus 2012)

Pagi-pagi kami meninggalkan hotel yang terletak di kawasan Koshien daerah pinggiran Barat kota Osaka menuju ke stasiun kereta terdekat. Tak seperti di Tokyo, transportasi kereta dan subway di Osaka agak membingungkan bagi orang asing pendatang seperti kami. Kebanyakan kereta api dan subway tak terintegrasi menjadi satu kesatuan sistim, utamanya pada pola pembayaran tiket maupun jurusan perjalanan.

Kami menaiki jalur kereta Hanshin Namba Line meninggalkan Koshien dan transit di stasiun Nishikujo kemudian beralih kereta tujuan JR Yumesaki Line ke Universal Studio.

Universal Studio Japan (disingkat USJ) di Osaka lumayan besar dan lengkap dengan tiket masuk seharga JPY 6,400 per orang dewasa menjadi JPY 19,200 atau setara IDR 2,3 juta untuk bertiga.

Sesampai di USJ, kami menitipkan tas dan ransel bawaan ke Locker yang disediakan dengan tarif sewa JPY 400.

Kawasan taman hiburan USJ terbagi beberapa area, misalnya; Hollywood, New York, Amity Village, San Fransisco, Jurassic Park, Water World dan Parkwide (saya tak mempunyai informasi luas areal USJ). Masing-masing area memiliki karakteristik atraksi dan tontonan yang berbeda.

Memasuki gerbang USJ kami sudah disuguhi teriakan histeris para pengunjung yang menaiki Roller Coster the Hollywood Dream Ride yang meliuk-liuk naik-turun berputar dan berbalik-balik.

Kami lebih menyukai tontonan 3D Animation atau atraksi yang sedang populer, misalnya saja Shrek 4-D Adventure, Terminator 2; 3-D, the Amazing Adventures of Spider-Man yang lumayan panjang antrinya. Ada beberapa atraksi yang menghebohkan antara lain Back to the Future, Backdraft, Jurassic Park Jaws, WaterWorld dan taman Hello Kitty’s.

Terlalu panjang untuk menceritakan seluruh fasilitas yang ada di USJ ini, yang pasti USJ merupakan salah satu destinasi wisata yang tak boleh dilupakan karena disitulah salah satu keistimewaan teknologi Jepang.

Sekitar pukul 4 sore kami meninggalkan USJ menuju ke kota pelabuhan Kobe dimana salah satu tempat yang ingin kami kunjungi salah satu gedung yang bernama DRI atau Disaster Reduction and Human Renovation Institution.

Masyarakat Kobe atau Jepang pada umumnya akan selalu mengingat gempa besar tanggal 17 Januari 1995 yang mendera kota Kobe.

Gempa Bumi besar Hanshin-Awaji adalah gempa Bumi yang terjadi di Jepang pada tanggal 17 Januari 1995 pukul 5:46:42 pagi dengan episentrum di sebelah utara Pulau Awaji yang terletak di bagian selatan Prefektur Hyogo. Gempa Bumi disebabkan oleh tiga buah lempeng: lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia yang saling bertabrakan. Gempa Bumi yang berlangsung selama 20 detik ini mengakibatkan kerusakan besar kota Kobe yang terletak sekitar 20 km dari pusat gempa.

Gempa Bumi memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe. Gempa Bumi besar Hanshin-Awaji merupakan gempa Bumi terburuk di Jepang sejak Gempa Bumi besar Kanto 1923 yang menelan korban jiwa 140.000 orang.

Gempa Bumi besar Hanshin-Awaji menimbulkan korban jiwa dan kerusakan dalam skala besar di daerah Hanshin (Kobe, Ashiya, Nishinomiya, Takarazuka, Amagasaki, Itami), pulau Awaji, dan kota Toyonaka yang terletak di Prefektur Osaka.

Total kerugian dan korban tercatat sbb:

·         Korban jiwa: 6.434 orang, korban hilang: 3 orang, luka berat-ringan: 43.792 orang

·         Korban yang mengungsi: di atas 300.000 orang

·         Total kerusakan rumah tinggal: 250.000 bangunan dengan perincian 104.906 hancur total, 144.274 hancur sebagian, 390.506 bangunan rusak, sekitar 460.000 keluarga kehilangan tempat tinggal atau tempat tinggal mengalami kerusakan

·         Korban akibat kebakaran: 7,483 bangunan terbakar habis, di antaranya 6.148 bangunan tempat tinggal (rumah dan apartemen), 9.017 keluarga kehilangan tempat tinggal

·         Kerugian lain: jalan dan jalan raya mengalami kerusakan di 10.069 tempat, 320 bangunan jembatan mengalami kerusakan, kerusakan pinggiran sungai di 430 tempat, tanah longsor di 378 tempat.

·         Total kerugian: JPY 10 triliun, sebesar 2.5% dari GDP Jepang pada saat itu.

Kerusakan bangunan dan sarana jalan sbb:

·         Gempa Bumi mengakibatkan infrastruktur yang disebut "lifeline", seperti jalan, jalur kereta api, listrik, air minum, gas, dan telekomunikasi menjadi lumpuh total.

·         Kebakaran besar menyusul gempa Bumi ditambah terjadinya badai api hampir memusnahkan semua bangunan rumah tinggal di distrik Shin-Nagata kota Kobe

·         Di kota Nishinomiya, rumah-rumah tinggal yang dibangun di atas punggung bukit terbawa tanah longsor sehingga memakan korban jiwa dalam jumlah besar.

·         Foto stasiun KA JR Rokkomichi yang hancur dan foto stasiun Hankyu Itami yang runtuh bersama kereta api yang siap berangkat di saat terjadinya gempa pada pukul 05:46 pagi menjadi bukti-bukti kekuatan Gempa Bumi besar Hanshin. Foto jalan layang Hanshin Expressway yang runtuh juga mendominasi halaman utama surat kabar di seluruh dunia di hari-hari sesudah gempa Bumi terjadi.

·         Jaringan kereta api juga mengalami kerusakan berat, hanya sepertiga dari rel kereta api antara Osaka dan Kobe yang dapat dipakai. Jalur KA Hanshin mengalami kerusakan yang paling parah karena sebagian besar tiang penyangga rel yang dibangun pada tahun 1967 tidak didesain untuk tahan gempa. Tiang-tiang penyangga rel banyak yang runtuh menimpa jalan raya di bawahnya sehingga jalan tidak dapat dilewati. Stasiun KA bawah tanah Daikai yang ada di kota Kobe juga amblas mengakibatkan jalan raya yang ada di atasnya ikut runtuh.

·         Jalan layang Hanshin Expressway yang menghubungkan Osaka dan Kobe runtuh sebanyak 10 ruas jalan di tiga tempat, sehingga jalur lalu lintas ke/dari kota Kobe putus. Pelabuhan Kobe juga mengalami kerusakan sehingga kegiatan bongkar-muat tidak dapat dilakukan. Sebagian besar jalan tol pelabuhan juga runtuh dan baru bisa dibuka kembali pada tanggal 30 September 1996.

·         Jalan Meishin Expressway yang menghubungkan Nagakute di luar kota Nagoya (Prefektur Aichi) dengan Nishinomiya hanya mengalami kerusakan ringan, tapi sempat ditutup selama beberapa minggu untuk kendaraan umum kecuali kendaraan yang mengangkut bantuan.

·         Tiang penyangga rel kereta Shinkansen yang terletak tinggi di atas tanah mengalami kerusakan, sehingga jalur kereta Shinkansen ke Jepang bagian barat terputus, tapi Bandara Internasional Kansai yang dibangun di atas pulau buatan tidak mengalami kerusakan.

·         Jembatan Akashi-Kaikyo yang sedang dibangun di dekat episentrum gempa tidak mengalami kerusakan, tapi rentang jembatan bertambah lebar 1 meter akibat menjauhnya lempeng tektonis.

Jumlah relawan yang membantu korban gempa Bumi rata-rata sekitar 20.000 orang per hari. Dalam 3 bulan pertama, total relawan yang datang membantu sekitar 1.170.000 orang. Pemerintah Jepang kemudian menetapkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Relawan dan Penanggulangan Gempa Bumi.

Upacara peringatan detik-detik terjadinya gempa Bumi di kota Kobe, pada tanggal 17 Januari setiap tahunnya diadakan berbagai upacara untuk mengenang korban Gempa Bumi besar Hanshin-Awaji.

Kobe Luminarie adalah acara tahunan berupa iluminasi yang dilangsungkan di kota Kobe setiap bulan Desember. Lampu-lampu berwarna-warni dirangkai menjadi berbagai variasi motif dan bentuk seperti pintu gerbang dan bagian depan gereja.

Di pagi hari tanggal 17 Januari, upacara peringatan detik-detik terjadinya gempa Bumi diadakan di lapangan kota Kobe dengan menyalakan ratusan batang lilin di dalam potongan bambu yang disusun membentuk angka 1.17 (cara penulisan tanggal dalam bahasa Jepang untuk bulan Januari tanggal 17). Di malam harinya, upacara peringatan yang serupa juga dilangsungkan di tempat lain

Kami mengunjungi gedung pusat DRI di Kobe dalam rangka ingin mengetahui situasi saat itu dan bagaimana sigapnya masyarakat serta pemerintah Jepang membangun kembali infrastruktur serta bangunan dan lebih hebat lagi mengembalikan moral masyarakat Kobe. Hari ini bekas-bekas kerusakan itu sudah tak ada lagi karena sudah dibangun kembali dengan cepat dan dalam kondisi serta konstruksi yang tahan gempa sejak tahun 1997.

Hati saya miris membandingkan kesigapan masyarakat Kobe dengan apa yang terjadi pada Tsunami Aceh serta Gempa Bumi Padang Sumatera Barat.

Hari sudah menjelang malam...............

Kami menuju area nongkrong ke taman jajanan Mosaic di pelabuhan Kobe yang suasananya sangat romantis dan indah pada senja hari ini. Tempat ini tepat berada dicelukan teluk Osaka tempat bertambatnya Dinner Cruiser. Tujuan kami adalah resto Kobe Beef untuk menikmati nikmatnya daging sapi khas Kobe yang sangat tersohor di dunia.

Membicarakan Daging Sapi Kobe kita harus menengok ke daerah Tajima.

Tajima terkenal sebagai pusat peternakan sapi yang dikenal dengan merek dagang Kobe Beef (daging sapi Kobe) yang dikenal di Tajima sebagai Tajima Beef (daging sapi Tajima). Tajima juga terkenal dengan berbagai tempat pemandian air panas (onsen), pantai yang indah dan tempat bermain ski. Industri perikanan, kehutanan, pertanian, dan pariwisata merupakan sumber penghasilan utama Tajima.

Daging Sapi Kobe yang sebenarnya dibangkitkan dari generasi Tajima-Ushi hitam sapi Wagyu diproduksi hanya di Prefektur Hyogo di Jepang. Hal ini dibesarkan menurut rahasia dan tradisi yang ketat. Konon, sapi-sapi diberi bir dan gandum dan menghasilkan daging begitu lembut. Harga daging sapi ini bisa mencapai hingga USD 600 per kilogram. Sapi ini berkembang biak secara genetis cenderung menghasilkan persentase yang lebih tinggi berminyak, lemak tak jenuh daripada sapi jenis lain yang dikenal di dunia. Trik lain khusus dalam produksi daging ini adalah sapinya dipijat setiap hari oleh pemiliknya.

Rasanya ya memang lembut luar biasa.................

Salam dari Osaka, 29 Agustus

 

Seri 8 Kunjungan ke Osaka Castle dan Nipponbash​i di Osaka 30 Agustus 2012



Seri 8 Kunjungan ke Osaka Castle dan Nipponbash​i di Osaka 30 Agustus 2012
(Tulisan ini sudah dikirimkan ke beberapa millis pada tanggal 30 Agustus 2012)

Hari ini kami bangun agak siang karena cukup lelah setelah berhari-hari bangun pagi dan berjalan kaki dibawah terik matahari yang sangat panas mencapai 35C pada siang hari.

Kami menuju stasiun kereta Koshien dan mulai kebingungan menentukan besarnya zona tarif tiket ke stasiun berikutnya. Kami harus naik Hanshin Main Line ke stasiun Umeda lantas berganti kereta dengan berjalan kaki agak jauh naik JR Osaka Loop Line menuju Osakajokoen, tujuan kami adalah Osaka Castle.

Istana Osaka adalah istana yang terletak di dalam Taman Istana Osaka, distrik Chuo-ku, kota Osaka, Jepang. Istana Osaka berada di ujung paling sebelah utara daerah Uemachi, menempati lokasi tanah yang paling tinggi dibandingkan dengan wilayah sekelilingnya.

Istana Osaka merupakan bangunan peninggalan budaya yang dilindungi oleh pemerintah Jepang. Menara utama Istana Osaka yang menjulang tinggi merupakan simbol kota Osaka.

Istana Osaka dimanfaatkan sebagai istana sekaligus benteng sejak zaman Azuchi Momoyama hingga zaman Edo. Istana Osaka yang ada sekarang terdiri dari menara utama yang dilindungi oleh dua lapis tembok tinggi yang dikelilingi oleh dua lapis parit, parit bagian dalam (Uchibori) dan parit bagian luar (Sotobori). Air yang digunakan untuk mengaliri parit istana diambil dari Sungai Yodo mengalir di sebelah utara Istana Osaka.

Osaka Jo dibangun pertama kali pada tahun 1496 oleh pendeta Buddha yang bernama Rennyo membangun rumah kediaman pendeta di lokasi yang bernama Osaka (tanjakan besar). Pendeta Rennyo yang mempunyai banyak pengikut kemudian memperluas rumah kediamannya menjadi kuil besar bernama Osaka Honganji (Ishiyama Honganji).

Istana Osaka mengalami beberapa kali pembangunan pada beberapa generasi dan telah direstorasi berulang kali. Penyelesaian proyek restorasi Istana Osaka yang terakhir memakan waktu 3 tahun, dimulai tahun 1995 dan selesai tahun 1997, yang antara lain membangun fasilitas lift untuk penyandang cacat, orang lanjut usia dan rombongan wisatawan.

Menara utama Istana Osaka yang ada sekarang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Jika dibandingkan dengan menara utama yang dibangun pada zaman Toyotomi atau zaman Tokugawa, menara utama yang dibangun di zaman Showa merupakan bangunan menara utama yang paling panjang umur.

Walaupun pastinya terletak di dalam lingkungan taman atau di sekitar Istana Osaka yang ada sekarang, sampai saat ini letak sebenarnya dari istana generasi pertama yang dibangun oleh Toyotomi Hideyoshi masih belum diketahui. Istana Osaka generasi pertama mungkin ada di sekitar parit luar (sotobori), di bawah jalan raya, atau di bawah tanah kompleks perkantoran Osaka Business Park (OBP) yang tidak terjangkau penggalian arkeologi.

Kami harus berjalan kaki dari stasiun Osakajokoen menyeberangi taman yang cukup luas dibawah terik matahari. Istana Osaka yang bercat putih hijau dan keemasan tampak megah menjulang tinggi diatas bukit.

Kami hanya berfoto-foto di depan istana Osaka serta di taman yang luas kemudian kembali ke stasiun Osakjokoen untuk menuju daerah perbelanjaan Nipponbashi.

Ini merupakan hari terakhir kunjungan wisata kami Jepang, tanpa disadari 3 koper yang bawa sudah tak mencukupi lagi untuk dimuati barang bawaan sejak dari Tokyo. Rasanya sudah harus membeli koper ke 4 sebelum pulang ke Jakarta esok pagi.

Nipponbashi tak ubahnya area perbelanjaan pernak-pernik dan elektronik di Akihabara Tokyo. Di Osaka wilayah Nipponbashi terbagi-bagi dalam beberapa area disebut Den-Den Town. Kami menyusuri Den-Den Town karena putri kami masih ingin menambah koleksi Manga, Anime dan sejenisnya.

Menjelang malam kami kembali ke hotel di Koshien dan mulai menata koper-koper untuk kepulangan esok hari. Habis sudah kesempatan untuk mengunjungi Pachinko house dan menikmati makanan kegemaran saya yaitu semangkuk nasi Yoshinoya yang asli Jepang karena keduanya tak ada di lokasi dekat hotel kami menginap.

Salam dari Osaka, 30 Agustus 2012

 

Thursday, July 19, 2012

Penetapan 1 Ramadan Selalu Berbeda

Penetapan 1 Ramadan Selalu Berbeda
SEMENANJUNG Arab adalah bentang daratan beralam kejam di siang hari. Tandus dan kering. Namun di malam hari. Arab adalah "surga" bagi para astronom. Langit Arab di malam hari, selalu indah.

Seperti China, sebagai bangsa dan peradaban tua, sastrawan Arab banyak menyanjung langit di malam hari. Malam adalah inspirasi keindahan, sedangkan siang diibaratkan "kekerasan."

Tak mengherankan jika khasanah intelektual dunia soal astronomi banyak lahir di tanah Arab. Gugusan bintang-bintang banyak lahir dari istilah Arab awal. Rasi bintang Orion awalnya dikenal dengan Al-Jabbar, Taurus (Ath-Thawr), Canis Major (Al-Kalb Al-Akbar), Canis Minor (Al-Kalb Al-Asghar), Leo (Al-Asad), Gemini (At-Tawa'man), Scorpius (Al-'Aqrab), dan beberapa lainnya.

Inilah yang menjelaskan, kenapa di banyak negara-negara Islam di Semenanjung Arab, seperti Mesir, Syira, atau Yaman dalam memutuskan 1 Ramadan, selalu merujuk ke Arab. Ke Tanah Haram, Mekkah.

Bahkan Malaysia dan Jepang, yang jauh di tenggara Asia, pun senantiasa berkiblat pada penentuan 1 Ramadan atau Syawal di Mekkah. Langit Mekkah dan Jeddah, selalu lebih terang. Rasi bintang di malam hari selalu terlihat lebih jelas.

Dan, memang perbedaan 1 Syawal dan 1 Ramadan hanya soal cara sistem penghitungan belaka, dan kondisi langit atau ufuk saat rukyah hilal.

Ingatkah kita, di Indonesia, hampir 3 dekade di masa pemerintah Soeharto begitu kuat perbedaan "cara" itu nyaris tak pernah ada. Itu karena pemerintah kuat, dan masih punya otoritas dan kepercayaan.

Sementara Indonesia umumnya menentukan sendiri, melalui pertemuan antara pemeritah dan ormas-ormas Islam.

Dalam perhitungan 1 Ramadan dan 1 Syawal, ada yang memakai Hisab dengan perhitungan astronomi yang rumit, ada pula yang memakai Ru'yah atau melihat bulan/hilal.

Ada pun yang memakai sistem Hisab berpendapat mereka melihat bulan dengan memakai ilmu kalendering. Inilah yang selama ini jadi rujukan ormas Muhammadiyah.

Dengan rujukan ini, 1 Ramadan 1455, atau di 22 tahun akan datang (tahun 2034) mendatang, sudah bisa diketahui, atau disesuaikan dengan kalender masehi.

Yang kedua, dengan rukyah, jika bulan terlihat, itulah saat mulai berpuasa atau berbuka puasa (Idulfitri). Inilah yang dipakai oleh pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenag dan Ormas Nahdlatul Ulama (NU).

Pada Ru'yah lokal, tiap penduduk melihat bulan sendiri-sendiri, sehingga tiap kota atau tiap negara merayakan hari Idulfitri sendiri-sendiri bisa berbeda satu negara dengan negara yang lain bahkan satu kota dengan kota yang lain.

Ada pun yang memakai Ru'yah Global begitu ada minimal 2 orang saksi yang dipercaya melihat bulan, maka itulah awal Ramadan atau awal Syawal. Rujukan yang terakhir ini biasanya http://moonsighting.com/

Umumnya Tim Ru'yah di Indonesia gagal melihat hilal (bulan muda) bukan karena mereka "bodoh" atau minimnya peralatan. Ini lebih disebabkan karena memang langit lagi berawan, atau banyak partikel cahaya dari bumi. Inilah yang menyebabkan bulan muda sering tertutup awan.

Selain itu, Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia begitu terang oleh cahaya lampu-lampu gedung dan rumah-rumah sehingga langit juga terlihat lebih terang termasuk di Boscha.

Akibatnya sinar-sinar bintang dan bulan terganggu dan terlihat kecil dan redup. Di Arab sebaliknya. Langit tidak berawan. Dengan luas darat yang lebih besar daripada Indonesia (2,4 juta km2) sementara jumlah penduduk cuma 1/5 pulau Jawa, banyak daerah tak bertuan yang tidak berlampu.

Galap gulita. Itulah, kenapa langit dan rasi bintang di Arab pada malam hari selalu lebih indah.

Sehingga langit begitu hitam kelam, sementara bintang-bintang dan bulan jadi tampak lebih besar (sekitar 4-6x lipat daripada di Indonesia) dan lebih terang. Oleh karena itu, Hilal lebih mudah terlihat di sana.

Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengungkapkan setelah mengamati posisi bulan menyimpulkan jika nantinya akan ada potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan.

Dari perjalanan bulan, diketahui bahwa pada maghrib akhir Sya'ban atau 19 Juli 2012 nanti bulan telah wujud atau tampak di Indonesia. Akan tetapi ketinggiannya kurang dari imkan rukyat. Ketentuan Imkan rukyat menggunakan kriteria yang disepakati ketinggian bulan minimal 2 derajat.

Nah, karena pada 19 Juli 2012 bulan sudah wujud tetapi kurang dari 2 derajat, maka pengguna hisab wujudul hilal akan menetapkan awal Ramadan jatuh pada 20 Juli. Pengguna hisab wujudul hilal ini di antaranya adalah Muhammadiyah.

Sedangkan ormas yang menggunakan hisab imkan rukyat akan menetapkan 1 Ramadan pada 21 Juli. Sementara itu, posisi hilal yang rendah tadi (antara 0-2 derajat) tidak mungkin akan berhasil di-rukyat pada 19 Juli.

Maka pengguna rukyat kemungkinan besar menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 21 Juli. Pengguna rukyat ini di antaranya adalah pemerintah dan NU (Nahdlatul Ulama).

Hari ini, Kamis (19/7), pemerintah akan mengadakan sidang itsbat untuk menentukan awal puasa Ramadan 1433 Hijriah. Dalam penentuan ini ada dua pendekatan. Penghitungan pertama bersifat matematis dan astronomis yang sering disebut hisab. Kedua dengan mengamati secara fisik penampakan hilal (bulan sabit pertama) yang merupakan pergantian bulan.

"Bahwa ini sudah ada bulan sudah bisa dilihat bulan. Sedangkan yang lain tidak melihat bulan," demikian disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Umar Shihab. Namun di sidang itsbat sore nanti, seluruh hasil pengamatan dan perhitungan akan disatukan untuk mengambil keputusan masuknya awal Ramadan.

Sementara Muhammadiyah, memperhitungkan awal Ramadan jatuh malam nanti. Bila posisi hilal sudah di atas ufuk. "Dalam perhitungan Muhammadiyah hilal sudah di atas ufuk (tepat 19 Juli)," tutur anggota Majelis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah Marifat Iman.

Nahdlatul Ulama (NU) memperkirakan awal bulan Ramadan 1433 H atau awal puasa tahun ini jatuh pada Sabtu (21/7). "NU telah memprediksi awal Ramadan, namun bukan berarti NU telah menetapkan tanggal itu. Ini penting disampaikan," kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A Ghazalie Masroeri di Jakarta, Rabu (18/7) malam.

Prediksi bahwa tanggal 1 Ramadan 1433 H jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012 tersebut juga tertuang dalam Almanak PBNU yang diterbitkan Lajnah Falakiyah. Kiai Ghazalie mengatakan, prediksi tersebut diambil berdasarkan perhitungan menggunakan metode ilmu hisab yang paling modern. "NU menggunakan hisab yang tahkiki, tadzkiki, ashri," kata Kiai Ghazalie.

Berdasarkan hisab modern, posisi hilal pada saat dilakukan rukyatul hilal pada Kamis (19/7) mendatang atau 29 Sya`ban 1433 H baru berada pada ketinggian 1 derajat 38 menit di atas ufuk. Maka hilal dinyatakan belum "imkanur rukyat" atau belum bisa dilihat sehingga tidak mungkin dapat dirukyat.

Menurut Kiai Ghazalie, negara-negara yang tergabung dalam MABIM (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam) menetapkan 2 derajat sebagai batas minimal visibilitas pengamatan. "Itu pun oleh pakar astronomi masih mau dinaikkan menjadi 4 derajat," katanya.

Secara astronomis, lanjutnya, hilal (bulan sabit) tidak mungkin bisa diamati jika masih berada di bawah batas visibilitas pengamatan. Dengan demikian almanak PBNU menggenapkan bulan Syaban menjadi 30 hari berdasarkan kaidah istikmal.

Meski demikian, Lajnah Falakiyah tetap akan melakukan rukyatul hilal di beberapa titik di Indonesia karena untuk penentuan awal Ramadhan 1433 H NU tetap mengambil keputusan berdasarkan hasil rukyat. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama juga mengimbau warga NU untuk menunggu hasil rukyatul hilal yang akan diselenggarakan Kamis (19/7) petang.


Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1433 Hijriah

Mohon maaf lahir dan batin


Salam,
NV


Disadur dan Diolah dari:
TRIBUNnews.com – Laporan Wartawan Tribun Timur, Thamzil Thahir

Liputan6.com (AIS)(Ant/ARI)