Showing posts with label Pengalaman Hidup. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Hidup. Show all posts

Friday, February 8, 2013

Mengelola Konflik dengan Berpikir Positif




Mengelola Konflik dengan Berpikir Positif
Tulisan ini pernah saya kirimkan ke beberapa Millis pada minggu pertama tahun 2010
Minggu pertama awal tahun 2010 mestinya kita punya semangat baru untuk bertindak lebih baik dari tahun lalu.

Sering kita jumpai orang-orang di sekeliling kita bercerita panjang-lebar dan berkeluh-kesah tanpa sebab yang jelas tentang berbagai hal. Apa saja yang dilihat atau didengarnya menjadi bahan keluh-kesah yang mengasyikkan dan berkepanjangan.

Mereka acapkali lebih senang membicarakan "mendung" di hari yang sangat "cerah".
Lambat laun, suasana hati kita juga terbawa mendung jika terus-menerus menelan keluh-kesah mereka.

Mereka yang gemar berkeluh-kesah biasanya akan menimbulkan konflik-konflik dalam lingkungan kerja, pergaulan maupun di rumah sendiri.

Mengapa harus ada konflik?

Sebab masing-masing orang punya kepentingan berbeda terhadap satu masalah. Konflik juga kerap kali muncul karena persepsi diri kita yang keliru tentang suatu masalah. Konflik seringkali muncul justru karena cara pandang kita sendiri terhadap masalah itu sendiri yang artinya konflik muncul justru dalam diri sendiri sementara orang lain tak melihatnya sebagai sebuah konflik.

Konflik akan selalu muncul baik dipicu oleh lingkungan sekitar atau rekan kerja atau tuntutan kerja yang berbeda dengan kepentingan diri kita dan utamanya lagi muncul sebagai persepsi diri sendiri.

Bagaimana Mengelola Konflik?

Ulasan berikutnya tentang pernyataan-pernyataan di bawah ini:

///Bagi kebanyakan orang, tempat kerja merupakan tempat persaingan yang kejam///

Ini salah satu bukti persepsi diri yang berbeda terhadap suatu masalah.

Siapa kebanyakan orang yang mengatakan bahwa tempat kerja merupakan tempat persaingan yang kejam?

Tempat kerja adalah suatu lingkungan dimana kita dapat menjalankan dan mendarma-baktikan peran-fungsi diri kita kepada masyarakat sekaligus memperoleh penghasilan dari padanya dalam rangka menghidupi keluarga masing-masing. Tempat kerja bagi saya lebih mirip sebuah rumah yang berpenghuni seluruh karyawan sebagai sebuah keluarga besar yang digerakkan oleh sebuah manajemen organisasi dalam rangka mencapai sebuah visi dan misi ke depan.

Pekerjaan dan tempat kerja bukanlah sebuah tempat pertandingan atau sebuah ajang kompetisi dimana yang menang diagung-agungkan dan yang kalah dipermalukan. Tempat kerja sama sekali bukan ajang kompetisi yang kejam.

Tempat kerja adalah sebuah tempat dimana banyak orang saling menghormati dan bekerja-sama untuk memenuhi sebuah tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya.

///Sementara itu sebahagian orang yang lain lagi (mungkin termasuk kita) merasa mandek, menemui jalan buntu atau terperangkap salam pekerjaan yang tidak mereka (kita) sukai-sekalipun gajinya besar. Lompatan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tak memecahkan masalah persoalan, tidak mampu membuat mereka (kita): “betah” atau “cocok”. Apa yang harus dilakukan? Bagaimana agar tempat kerja--betapun jeleknya--bisa menjadi sahabat, bukan musuh Kita? ///

Sederetan kalimat di atas juga contoh lain mengenai persepsi diri yang belum tentu dianut oleh orang lain.
Saya merupakan salah satu diantaranya yang tak sepakat.

Jika kita merasa mandek, menemui jalan buntu atau terperangkap dalam pekerjaan yang tidak mereka (kita) sukai-sekalipun gajinya besar, lalu bagaimana?

Seorang rekan mengatakan bahwa ia bercita-cita menjadi seorang tentara. Ia berhasil masuk Tamtama dan 30 tahun kemudian ia masih seorang tentara Sapta-Marga. Apakah ia mengalami kemandegan?

Saya sendiri adalah sebagian dari contoh yang bercita-cita ingin menjadi penerbang dan tanpa saya sadari saya telah mengabdi lebih dari 28 tahun sebagai penerbang dengan pangkat Captain (yang tak mungkin naik jadi Jenderal), apakah saya mengalami kemandegan?

Ayah saya seorang guru Olah Raga semenjak lulus SGPD tahun 50an dan beliau wafat sebagai pensiunan Guru, apakah itu sebuah kemandegan?

Secara bertahap dan sangat pasti saya merasa bahwa diri mengalami evolusi yang semakin hari semakin baik dan saya tak pernah merasa mengalami kemandegan meski profesi saya tak berubah sama-sekali.

Jadi apa yang membedakan antara kemandegan dan evolusi perubahan pada diri seseorang? Tak lebih dari sebuah persepsi dan rasa syukur mengenai apa-apa yang telah hasilkan dan apa-apa yang kita peroleh selama ini.

Jika begitu, apa yang membuat kita betah dan cocok di tempat kerja?

Ini juga sebuah persepsi tentang sebuah nilai-nilai yang diyakini seseorang.

Ada seorang sahabat Arsitek yang terkenal di Jakarta. Saya utarakan sebuah keinginan, "saya ingin sebuah rumah yang didesain seperti itu, tampaknya cocok dan indah buat saya".

Saya kaget mendapat jawaban bahwa keindahan dan kesesuaian sebuah rumah itu bukan karena disainnya namun karena siapa penghuninya.

Betapapun megahnya sebuah bangunan jika para penghuninya berperilaku buruk maka rumah itu akan segera tampak buruk dan membuat yang tinggal di dalamnya merasa kotor dan tak nyaman.
Sebaliknya sebuah rumah sederhana namun ditempati oleh sebuah keluarga yang harmonis, resik, apik dan tertib akan memancarkan keindahannya dan membuat betah siapapun untuk tinggal dan mengundang keinginan para tamu mampir.
Rumah sederhana itu telah memancarkan keindahannya sendiri . . .

S
emenjak saat itu, ada sebuah lukisan rajutan tangan buatan istri yang di dalamnya tertulis "tiada tempat yang lebih indah selain rumah sendiri".
Lukisan itu masih ada dan selalu mengikuti kemanapun kami pindah rumah.
///Memang, tak seorang pun bisa menjamin bahwa konflik tak akan pernah terjadi di tempat kerja, sesempurna apa pun pekerjaan itu. Yang paling banter bisa dijamin adalah, pasti ada cara bijak untuk menyiasati konflik itu…….
Faktor-faktor tekanan yang biasanya bisa menjadi konflik dan kita di tuntut untuk bersikap secara arif & bijak jika menghadapinya :
  • Bos yang tidak adil & makan hati,
  • Rekan kerja wanita/pria yang menggoda,
  • Rekan sekerja yang berpandangan negative dan selalu mengkritik, mengeluh sepanjang waktu dan memberi pengaruh buruk,
  • Rekan-rekan kerja yang tidak memuaskan,
  • Godaan untuk melanggar batasan-batasan etika & moral,
  • Menurunnya minat terhadap pekerjaan yang membosankan, tanpa peluang promosi,
  • Tuntutan perusahaan yang terus-menerus, sementara kita tidak mungkin berkutik menentang tuntutan itu,
  • Tekanan deadline dan pengurangan karyawan baru baru ini yang membuat kita mengabaikan integritas dan berbohong mengenai berbagai kesalahan kecil,
  • Tekanan rekan sekerja yang meminta memperlambat kecepatan pekerjaan supaya yang lain tidak terlihat buruk atau supaya dapat mengambil jalur lembur lebih banyak, atau tekanan untuk kompromi dalam hal kualitas atau untuk menutupi kesalahan orang lain,
  • Takut meninggalkan pekerjaaan yang aman yang sedang di jalani, karena posisi tersebut sudah lama di impikan,
  • Ketegangan yang berkepanjangan dengan rekan kerja dan atasan,
  • Pertanyaan-pertanyaan yang mendesak tentang tujuan dan arah hidup kita.////
Semua pernyataan ini sungguh bernada persepsi negatif.
Sementara saya adalah jenis manusia yang berusaha berpikir selalu positif, jadi pernyataan-pernyataan tersebut sangat mudah saya balik:
  • Bos saya adalah orang yang lebih adil dibanding bos orang lain,
  • Godaan rekan kerja membuat saya semakin antusias dalam bekerja,
  • rekan kerja saya lebih banyak yang memberi solusi dari pada yang hanya berkeluh kesah,
  • saya nyaris tak pernah merasa tergoda untuk melanggar batasan karena sayalah yang mebuat batasan itu untuk diri sendiri,
  • saya selalu senang menyelesaikan tugas sebaiknya karena sayalah yang menentukan tuntutan pekerjaan kepada diri saya sendiri (meski itu untuk perusahaan). Dan untuk diketahui "saya bukan jongos dari siapapun" saya selalu menentukan ukuran pekerjaan untuk diri saya sendiri (sesuai kepentingan perusahaan).
  • saya sangat mencintai pekerjaan yang saya lakukan dan saya belum punya alasan kuat untuk meninggalkannya,
  • tujuan hidup saya sudah jelas dan gamblang serta semakin hari semakin saya sempurnakan.
Well, ini semua hanya masalah "persepsi" . . .
Saya akan menemukan banyak sekali alasan yang mendukung sebuah konsep berpikir negatif, sebaliknya saya juga tak terlalu sulit menyakini sesuatu atas dasar pandangan poisitif pada setiap masalah.

Bahkan untuk sebuah "kegagalan" saya akan mengatakannya "saya sukses mengetahui bahwa saya gagal".

Dan, "sukses itu tak ubahnya 10 kali gagal dan 11 kali berhasil"

Dengan cara berpikir seperti itu, saya hampir tak memiliki konflik atas tuntutan pekerjaan. Apapun tuntutan pekerjaan (dari perusahaan) selalu saya jadikan tuntutan kepada diri sendiri yang bahkan lebih sulit dari yang dituntut oleh perusahaan. Sehingga saya tak pernah menganggapnya sebagai tuntutan perusahaan namun cenderung sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri. Jika saya berhasil maka saya dapat pastikan hasilnya selalu lebih dari yang dituntut oleh perusahaan karena saya membuat ukuran yang lebih tinggi untuk diri sendiri. Jika suatu hari saya "gagal" saya juga tak akan menyalahkan siapa-siapa karena saya yang membuat ukuran keberhasilannya. Saya tak pernah merasa terpojok oleh tuntutan apapun karena saya adalah "tuan untuk diri sendiri" dan saya bukan "jongos bagi siapapun".

Sebagaimana ditulis o
l
eh FF Fournies dalam Coaching for Improved Work Performance, ada 4 alasan umum mengapa orang sering berkeluh kesah dan tidak melakukan unjuk kerja sebagaimana seharusnya;
 
  1. Mereka tidak tahu "apa" yang seharusnya dilakukan,
  2. Mereka tidak tahu "bagaimana" melakukannya,
  3. Mereka juga tidak tahu "mengapa" mereka harus melakukannya, dan
  4. Adanya rintangan di luar kendali mereka.
 
Tiga hal pertama menyangkut "diri kita sendiri" dan satu hal terakhir menyangkut "diri kita dan diluar diri kita".
 
Persepsi diri kita juga dapat dipermudah menjadi semua kegagalan adalah "diluar kendali kita". End of story dan kita gagal . . .
 
Khusus pada alasan terakhir, saya juga seorang "ekstrimis" sejati. Jika alasan kegagalan di luar kendali kita maka saya akan cari tahu "siapakah" yang punya kendali tersebut? Ia mungkin seorang manager, Senior Manager, Vice Presiden Executive Vice President, CEO atau Dirjen bahkan Menteri.
Begitu saya ketahui maka saya akan segera mempersiapkan dan menempatkan diri saya seperti mereka (meski saya tahu saya belum atau bukan jadi mereka). Itu salah satu cara saya mengarahkan diri saya menuju ke arah "menjadi mereka". Saya akan berpikir, berbicara dan bertindak seperti mereka yang jika gilirannya tiba saya akan menyelesaikan masalah yang "di luar kendali kita" tadi. Kadangkala saya sungguh-sungguh menjadi mereka belakangan hari dan kadangkala itu hanya sebuah jabatan "mereka" yang semu. Tak mengapa, karena yang penting saya telah belajar menjadi "mereka" . . . .
Jika suatu hari nanti saya menjadi "mereka" maka masalah yang saya hadapi hari ini sudah bukan menjadi masalah ketika saya menjadi "mereka" yang sesungguhnya.
 
Berdasarkan sebuah survey, kemana kita sering berpaling minta bantuan jika ada masalah pekerjaan?
 
  • 56% ke keluarga
  • 43% ke teman-teman
  • 38% ke Kitab Suci
  • 27% ke Buku-Buku lain
  • 16% ke Ahli Agama
  • 7% ke Ceramah para Pemimpin
  • 6% ke Bos atau Atasan
  • 4% ke Penasehat Ahli
 
Anda tahu, kemana saya akan minta bantuan?
Saya membiasakan diri untuk langsung menemui "Bos" pemberi kerja yang relevan sebab seringkali mereka adalah penasehat terbaik.

Sekaligus saya menentukan sendiri ukuran pencapaian untuk diri sendiri sehingga selalu lebih tinggi dari ukuran yang ditetapkan oleh Bos untuk diri saya.

Kita Semua Punya Masalah

Suatu hari si Joe menerima sebuah telepon yang memintanya untuk pergi ke suatu tempat dengan segera karena ada masalah.

Belum sempat satu masalah diselesaikan, muncul telepon berikutnya yang memintanya pergi ke lain tempat karena juga ada masalah lain. Belum sempat masalah satu dan masalah kedua dikerjakan, sudah muncul telepong ketiga, keempat dan kelima yang memintanya pergi ke tempat yang berbeda pula.

Tahu-tahu, si Joe sudah berada dalam sebuah taksi dan si Joe tak mampu menjawab sebuah pertanyaan yang paling sederhana "pak Joe mau kemana?"

"Terserah kamu saja, kemanapun saya pergi pasti sudah ada masalah menunggu saya di tempat itu" Keluh pak Joe.

Seringkali kita terjebak pada sebuah situasi dimana masalah ada di mana-mana dan memerlukan diri kita!

Sabar . . .

Seringkali orang perlu mengubah perspektif mereka dan bukan pada masalah mereka.

Jangan-jangan anda sebenarnya tak punya masalah apa-apa hanya perasaan anda yang mengatakan anda punya masalah.

Katakan "tidak" kepada siapapun penelepon anda jika anda yakin itu bukan masalah yang perlu untuk anda selesaikan atau anda tak mungkin menyelesaikan masalah tersebut.
Sebaliknya selesaikan masalah tersebut sebaik-baiknya jika anda yakin itu memang patut untuk diselesaikan karena hanya dengan cara itu diri kita akan semakin berkualitas.

Ini merupakan hukum alam, masalah dan hambatan adalah syarat menuju sukses. Bekerja tanpa masalah berarti hanya "keberuntungan" semata. Anda hanya akan menjadi orang beruntung dan bukan orang sukses.

Jika kita cenderung untuk menyingkirkan dan menghindari masalah serta tanggung jawab maka anda sedang mendorong diri menjadi "jongos" untuk kehidupan ini.

Ada seorang pemuda gagah bertanya kepada seorang kakek tua "Kakek, apa sesungguhnya beban kehidupan yang paling berat?"
Kakek tua itu dengan sedih menjawab "yang paling berat adalah jika kita sudah tak punya apapun untuk dipikul".

Masalah Saya Bukan Masalah Saya

Ada perbedaan besar antara seseorang yang punya masalah besar dan seseorang yang membesar-besarkan masalah.

Pada beberapa kesempatan rekan-rekan yang menemui saya karena merasa punya masalah selalu saya arahkan dengan cara kekanak-kanakan untuk menemukan masalah lain.

Sebenarnya saya sedang berusaha mencarikan mereka jalan keluar dengan cara menemukan masalah lain yang lebih patut untuk diselesaikan.

Seringkali orang merasa punya masalah padahal bukanlah masalah yang sesungguhnya.

Yang menjadi masalah adalah bahwa mereka bereaksi secara salah terhadap sebuah masalah dan dengan demikian menjadikan masalah tersebut sebagai masalah yang sesungguhnya untuk mereka. Mereka ini sering "terbelenggu" dengan sebuah kenyataan "apa yang terjadi terhadap diri saya" dari pada "apa yang terjadi dalam diri saya".

Pertanyaan "positif"nya begini . . .

Mengapa banyak orang berprestasi bisa mengatasi masalah mereka sementara banyak yang lain dikalahkan oleh masalah mereka sendiri?

Orang berprestasi memang menganut dalil yakni mengubah "batu penyandung" menjadi "batu pijakan".

Mereka memang menyadari tak bisa menetapkan semua keadaan untuk kehidupan mereka namun mereka telah terbiasa menetapkan "pilihan" sikap terhadap keadaan apa saja.

Tirulah sikap Tukang Reparasi yang selalu "tersenyum" setiap kali ada masalah.

Kita memang dapat juga bersikap pasrah dan apatis terhadap masalah namun berhati-hatilah karena orang lain akan datang membawa solusinya dan anda akan semakin tersisih bergumul dengan masalah yang tak kunjung selesai.

Ada 2 orang pasien terbaring di Rumah Sakit. Mereka menempati kamar rawat inap yang sama. Yang satu menghadap jendela dan yang satu hanya menghadap tembok.

Setiap pagi, pasien yang berada di sisi jendela berusaha menghibur rekannya yang tergolek di sebelahnya dengan menceritakan betapa indah pemandangan di luar. Ia ceritakan banyak mobil lal-lalang, lalu para pengunjung yang cantik cantik dan lucu, taman sebelah yang hijau dan cuaca yang indah pagi ini.

Pasien yang tidur menghadap tembok termenung dan mulai berpikir betapa tak adilnya RS ini menempatkannya di sisi yang tanpa jendela. Setiap hari ia meratapi dalam hati mengapa bukan ia yang tidur menghadap jendela.

Suatu pagi, temannya tak lagi berceloteh mengenai pemandangan indah di luar. Ia sudah meninggal selamanya karena tak kuasa menahan sakit yang tak kunjung tersembuhkan.

Rekan ini segera saja meminta kepada perawat "Suster, bolehkah saya pindah ke tempat tidur sebelah?"

Ia terperanjat bukan kepalang ternyata jendela itu hanya menghadap sebuah tembok besar warna putih dan kosong!

Berpikir positip memang tak selalu dapat mengubah keadaan namun setidaknya dapat merubah diri kita lebih baik. Jika kita berpikir secara benar tantang situasi yang sulit maka Insyallah perjalanan kita melalui kehidupan ini akan menjadi lebih baik.

Selamat Tahun Baru dengan Semangat Baru dan Salam Sukses.

Suwun,
NV

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tulisan di atas kemudian diberi komentar oleh sahabat sbb:
 
Assalamualaikum capt..., apakah anda sekarang beralih profesi menjadi dukun ?...
Gusnug, 6 Januari 2010

Kemudian, (penulis komentar dibawah ini telah almarhum, seorang sahabat bernama Soedjoeri Widodo)
Mas Novan dan teman2 lainnya;

Tergelitik saya ingin menanggapi apa yang ditulis oleh mas Novan tsb.
Kita bisa setuju, juga bisa tidak setuju dengan apa2 yang ditulis oleh mas Novan tersebut. Yang membuat kita adalah mahluk yang termulia di dunia ini adalah karena kita mempunyai kebebasan memilih atas apa yang ingin perbuat. Dan memang hidup ini adalah bagaimana kita me-respon atas stimulus yang kita terima dari luar. "Hidup ditentukan oleh 90% bagaimana kita ber-reaksi terhadap hal2 yang datang ke kita, dan 10% adalah murni inisiatif diri". Jadi kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh bagaimana pilihan tindakan yang kita ambil.
Mas Novan mengambil sikap positif terhadap hal2 yang datang pada dirinya, orang lain mungkin bisa mengambil sikap negatif sehingga bawaannya akan curiga saja, atau bisa ber-ubah2 kadang2 positif kadang2 negatif. Hak dia untuk bersikap seperti itu.
Kemudian siapa yang berhak mengatakan "kemandegan". Mestinya ya dirinya sendiri, bukan oranglain. Bisa saja orang luar memandang itu sebagai kemandegan; yang paling penting adalah diri sendiri memandang itu kemandegan atau bukan. Being excellence is not how good we compare with others, but with ourselves yesterday.
Kalau saya flashback awal tahun 2009 dan awal 2010, pekerjaan saya tetap sebagai trainer, puaskah saya? Apakah saya mandeg? Saya puas, dan saya tidak merasa mandeg, karena saya merasa I am better now compared dengan awal 2009; meskipun saya juga evaluasi diri dan berpendapat I can still do better.
Karena itu, semuanya berpulang pada diri sendiri, bagaimana kita menetapkan dasar pola pandang kita, bagaimana kita ber-reaksi yang lebih ber-kualitas terhadap stimulus yang kita terima, dan bagaimana kita selalu (seperti yang dikatakan mas Novan) men-syukuri apa yang kita capai atau miliki.

Have a very brighter day today.

salam
Juri
, 6 Januari 2010

Wednesday, March 7, 2012

Perjalanan ke Brussels Bagian 1


Artikel ini ditulis secara berserial sekitar akhir bulan Juni sd awal bulan Juli 2009 tentang sebuah perjalanan dalam rangka mengeluarkan GA dan Indonesia dari daftar “Blacklist Penerbangan Uni Eropa”

 Perjalanan ke Brussels Bagian 1
 

Tahun-tahun terakhir memang banyak kecelakaan pesawat terbang di Indonesia akibat deregulasi yang “kebablasan” sehingga badan regulator penerbangan sipil Indonesia (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara) kurang mampu mengawasi operator penerbangan sipil yang jumlahnya mencapai 50 an.

Ketika GA200 kecelakaan di Jogyakarta 7 Maret 2007, maka "runtuh"lah semua benteng pertahanan dan kepercayaan international yang menyoroti masalah keselamatan penerbangan di Indonesia.

Pertengahan April 2007, ICAO dan FAA langsung menurunkan standar keselamatan Indonesia ke Kategori 2 yakni sebuah negara yang tak memenuhi seluruh persyaratan ICAO Standard and Recommended Practices (artinya ada batasan khusus untuk semua maskapai Indonesia untuk beroperasi di Amerika, padahal memang sebetulnya tak ada operator Indonesia yang beroperasi ke atau di Amerika sejak tahun 2002)

Sementara itu, Uni Eropa mulai bertanya-tanya ke Dephub, mengapa Indonesia dimasukkan ke negara Kategori 2 oleh ICAO dan FAA (padahal ya tentunya merak sudah mengerti). Tapi tak ada tanggapan formal dari Dephub. Bahkan ada surat terakhir dari Uni Eropa yang memberikan ultimatum jika dalam 10 hari tak ada penjelasan resmi maka UE terpaksa memasukkan Indonesia ke European Commission (EC) Operating Ban (surat ini juga tak dijawab Dephub)

Hal yang paling "memprihatinkan" tak ada secuilpun informasi itu yang disampaikan oleh Dephub kepada para maskapai Indonesia yang memungkinkan para operator penerbangan Indonesia untuk diberi kesempatan untuk menyampaikan "defense argument" langsung ke markas besar UE di Brussels.

Akhirnya, 14 Juli 2007, UE menerbitkan EC Annex A yang dikenal sebagai EC Operating Ban Level 3 yang di Indonesia dikenal sebagai Black List Uni Eropa.

EC Ban Level 3 itu ditujukan ke sebuah negara yang tak bisa memenuhi seluruh standar keselamatan ICAO dan European Aviation Safety Agency (EASA). Artinya semua operator penerbangan dan pesawat terbang yang terdaftar di Indonesia dilarang beroperasi di negara Uni Eropa (Blanket Ban), termasuk GA meski sejak tahun 2004 tak beroperasi lagi di Eropa.

Mengingat istilah yang dikembangkan di Indonesia menjadi "blacklist" maka para politisi dan media menjadikannya headline yang menggegerkan di Indonesia (padahal ICAO dan FAA juga melakukan hal sama tapi kurang mendapatkan pemeberitaan).

Masalah EU Blacklist ini selanjutnya semakin bergeser ke masalah “patriotik” kehormatan bangsa padahal masalah sebenarnya adalah masalah teknis yang "sepele" yakni Dephub harus mampu menindak-lanjuti 122 Audit Finding yang diberikan oleh ICAO.

Seminggu setelah Indonesia dimasukkan dalam daftar “blacklist UE”, aku dan para petinggi GA langsung menemui Dubes UE di Jakarta untuk mohon petunjuk meski sudah terlambat (karena tak diberi informasi oleh Dephub).

Singkatnya, kami (GA) bertekad membereskan masalah ini dengan hadir langsung ke Kantor Pusat EC Air Safety Committee (ECASC) di Brussels meski GA tak mempunyai rencana atau keinginan untuk terbang ke jalur Eropa dalam waktu dekat tapi memang ada aspek-aspek Financial, Insurance dan Image yang mulai terganggu).

Sejak Agustus 2007, kami rutin hadir dalam rapat-rapat ECASC yang secara rutin dilakukan setiap 3 bulanan membahas masalah Operating Ban.

Pertama kali hadir dalam rapat ECASC, memang membuat gentar dan nyali ciut. Siapa yang tidak? Aku memasuki ruang rapat taraf internasional di markas besar EU yang dihadiri 27 perwakilan negara anggota UE (masing-masing 2 peserta) plus 10 anggota ECASC. Aku harus duduk di tengah-tengah seperti pesakitan, semua orang memakai "headset" mendengarkan translator bahasa membacakan semua pembicaraan.

Itulah pertama kali aku mempunyai pengalaman mengikuti secara langsung rapat resmi badan dunia . . .

Sejak itu, hampir tiap 3 bulan aku berangkat ke Brussels membawa berbagai macam dokumen yang kadang-kadang tebalnya 3 ordner ukuran setebal 10 cm, plus bahan presentasi.

Rasanya tak kurang-kurang kami meminta dukungan negara-negara anggota EU, maskapai-maskapai Eropa, Deplu UE, organisasi Eropa dan para Konsultan di Eropa, tapi belum berhasil karena yang menjadi akar masalah adalah 122 Audit Finding ICAO yang belum selesai ditindak-lanjuti Dephub.

Hari Jumat ini (tanggal 26 Juni 2009), aku sedang bersiap-siap mengumpulkan berbagai macam dokumen di kantor sebagai persiapan untuk berangkat ke Brussels dalam rangka sidang ECASC akhir bulan ini.

Pada kesempatan yang baik ini aku ingin berpamitan sekaligus memohon doa restu karena hari Minggu akan berangkat lagi ke Brussels Belgia (bersama-sama dengan delegasi Dephub).

Sidang ECASC dijadualkan Selasa tgl 30 Juni siang waktu Brussels (biasanya hasil sidang ECASC akan disahkan Parlemen UE sekitar 2 minggu kemudian)

Ini memang perjalanan misi nasional, misi negara, misi GA, dan tentu saja misi pribadi yang semoga saja menjadi the "last battle" meski perang belum tentu berakhir.

Aku pribadi sangat percaya, semua kegagalan itu (semenjak Agustus 2007) pasti akan ada habisnya dan ada akhirnya, semoga saja perjalanan kali ini menjadi "victory mission" bagi semuanya.

Aku kirimi gambar pertama yang diambil dari salah satu sudut bandara Changi S'pore.


Lokasi ini merupakan salah satu spot yang aku sukai yakni Smoking Area di Terminal 3 Changi.

Tempat merokok saja dibuatkan taman terbuka yang asri.

Aku transit selama 5 jam di Changi karena semua penerbangan penuh he he he

Penerbangan ke Schipol nanti akan memakai SQ324 yang akan berangkat schedule jam 23:00 waktu setempat dan dijadualkan akan tiba di Schiphol Belanda sekitar jam 6 pagi. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan kereta api ekspres Thalys tujuan akhir Brussels dengan lama perjalanan 3 jam.

Cuaca Belanda dan Belgia diperkirakan lebih kurang; hujan, angin lembut dengan suhur 25 sd 15 Celcius.

Cerita berikutnya lanjut ke Bagian 2 . . .

Singapore, 28 Juni 2009



Novianto Herupratomo

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Perjalanan ke Brussels Bagian 2


Artikel ini ditulis secara berserial sekitar akhir bulan Juni sd awal bulan Juli 2009 tentang sebuah perjalanan dalam rangka mengeluarkan GA dan Indonesia dari daftar “Blacklist Penerbangan Uni Eropa”


Perjalanan ke Brussels Bagian 2


Transit 5 jam di bandara Changi memang tak terasa karena banyaknya pertokoan dan resto sebagai layaknya sebuah mall.

Sebuah pesawat Boeing B777-200 mengudara menuju Schiphol Amsterdam sesuai jadual. Semua kursi kelas Bisnis terisi penuh meski tiket SQ terkenal mahal.

Aku duduk di sebelah seorang kakek tua warga Belanda yang tampaknya sudah memerlukan bantuan.

Pramugari SQ meskipun tak terlalu cantik namun sangat ramah menyapa "Mr. Herupratomo, good evening sir, what would you like to drink shortly after take-off?" tanyanya sambil dia bersimpuh di samping tempat dudukku . . . . Alamak, itulah salah satu keistimewaan SQ yang belum bisa ditiru maskapai manapun, bersimpuh sambil menyebut nama penumpang secara akurat.

"Let me try, a French Red Wine please . . ."

Sejak itu, namaku disebutnya terus-menerus sepanjang penerbangan, ya memang itu salah satu keistimewaan SQ, semuanya serba tersandarisasi secara konsisten.

Sebelum waktu istirahat tidur, sekitar jam 3 pagi waktu Jakarta, dia mencatat permintaanku menu sarapan yang akan disuguhkannya 2,5 jam sebelum mendarat di Schiphol nanti.

Lebih kurang dia menawarkan "telurnya mau diapakan (maksudnya dimasak apa)?".

Aku langsung terlintas wajah dan kebiasaan jahil Mas Hariono sang juragan Midori, hampir saja aku jawab "kalau mau dielus-elus juga boleh he he he" tapi tentu saja urung dilakukan karena takut dilaporkan ke polisi sebagai pelecehan seksual, jadi aku jawab sopan "omelet would be fine, thank you"

Jam 3 pagi (atau jam 11 malam waktu Eropa), aku mencoba tidur dengan harapan bisa tidur enak sekaligus menyesuaikan waktu "body clock" dengan waktu Eropa.

Penerbangan Singapore ke Amsterdam memakan waktu 12,5 jam non-stop melewati wilayah udara Rusia. Penerbangan ini diawaki 4 pilot dan 11 awak kabin.

Cuaca pagi ini di Schiphol lumayan jelek, jarak pandang pendaratan sangat terbatas karena berkabut, temperatur 15 Celcius dan angin lumayan kencang (tapi negara Belanda memang terkenal anginnya kencang makanya banyak win mollen alias kincir angin)

Tepat jam 6 lewat 30 menit, pesawat mendarat dengan hentakan cukup alus.

Bandara Schiphol, meski terhitung sudah tua tapi cukup efisien dan sebagai bandara sibuk di Eropa.

Aku sempatkan “nyruput rokok di luar Terminal untuk kemudian lanjut kereta api ekspres Thalys ke Brussels.

Kereta Thalys memiliki jaringan yang cukup luas di daratan Eropa. Harga tiket Thalys dari Schiphol ke Brussels Midi 82 Euro dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Keretanya sangat bagus mirip kapal terbang, ada tersedia Wifi dan layanan sarapan yang didorong pakai troli pesawat terbang.




Sesampai di stasiun Brussels Midi, aku harus menunggu anggota rombongan lain yang naik Thalys juga dari Paris yang akan tiba sekitar 15 menit setelahku.



Rombonganku menginap di Hotel Novotel di pusat kota daerah Grand Place.

Sekarang hari Senin 29 Juni 2009 pukul 1 siang waktu Brussels, Aku sudahi dahulu cerita ini dan akan disambung cerita berikutnya Bagian ke 3

Cuaca Brussels sangat cerah dan panas . . . .

Brussels, 29 Juni 2009

Salam,

Novianto Herupratomo

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Perjalanan ke Brussels Bagian ke 3


Artikel ini ditulis secara berserial sekitar akhir bulan Juni sd awal bulan Juli 2009 tentang sebuah perjalanan dalam rangka mengeluarkan GA dan Indonesia dari daftar “Blacklist Penerbangan Uni Eropa”

Perjalanan ke Brussels Bagian ke 3

Berjalan-jalan di daerah Grand Place pada musim panas di Eropa serasa suhu udara di Sawangan, panas nylekit sangat tak nyaman bagi pendatang seperti kita dari benua Asia. Sementara penduduk lokal sangat senang menikmati musim panas sehingga daerah Grand Place dipenuhi para pejalan kaki.

Aku cukup mengenakan T-Shirt serasa di Blok M Jakarta Selatan.



Salah satu keistimewaan pusat kota Grand Place atau Grand Markt seperti “alun-alun kota yang bangunan-bangunan model katedhral.

Banyak pelancong duduk-duduk santai menikmati kopi atau bir dengan mencicipi wafel terkenal ala Belgia.

Sepanjang gang-gang yang sempit banyak seklai cafe-cafe yang menyuguhkan menu "kerang" meskipun Belgia ini tak ada daerah laut. Selain kerang juga disajikan escargot atau "bekicot".




Negara Belgia juga terkenal sebagai produsen bir di Eropa. Bir produksi Belgia jenisnya bermacam-macam dan unik; ada bir putih, bir standar, bir kuat (strong) dan bir ekstra kuat (semakin banyak kadar alkoholnya).

Salah satu cafe yang paling favorit untuk menikmati kerang adalah Chez Leon yang berdiri sejak 1893, silakan hubungi;
www.chezleon.be

Aku memesan moules (kerang) polos yang disajikan dalam ember dan moules with butter herbs souce.



Oh ya, bahasa yang dipergunakan di Belgia ini campuran Perancis, Belanda pinggiran dan sedikit bahasa Inggris.

Brussels dijadikan ibu kota pemerintahan Uni Eropa sehingga banyak gedung-gedung perkantoran dari berbagai bagian organisasi Uni Eropa. Begitu pula, tentunya banyak mobil-mobil plat nomor diplomat berseliweran di seantero kota Brussles yang mewakili negara anggota UE masing-masing.
Jadi memang kemungkinan besar salah satu pendorong perputaran ekonomi Belgia dari aktifitas pemerintahan Uni Eropa di sini.

Selain itu, banyak toko-toko produsen coklat Belgia di Brussels, contohnya bisa dilihat di sepanjang Galerie de la Reine semuanya memproduksi berbagai produk olahan coklat home made mereka masing-masing. Coklat "praline" yang terkenal lembut di lidah memang berasal dari produksi Belgia.



Saat ini menjelang magrib jam 18:30 namun matahari masih terang-benderang serasa tengah hari.

Aku mau bersiap menghadiri undangan makan malam di KBRI Belgia, . . . . .

Brussels, 30 Juni 2009


Novianto Herupratomo

Powered by Telkomsel BlackBerry®



Tuesday, March 6, 2012

Perjalanan ke Brussels Bagian 4


Artikel ini ditulis secara berserial sekitar akhir bulan Juni sd awal bulan Juli 2009 tentang sebuah perjalanan dalam rangka mengeluarkan GA dan Indonesia dari daftar “Blacklist Penerbangan Uni Eropa”

Perjalanan ke Brussels Bagian 4

Selamat pagi dan cuaca cerah di Brussels hari ini.

Seharian kemarin cukup melelahkan, baru saja tiba dari Jakarta, langsung bekerja bersama rombongan delegasi Dephub yang meluncur dengan KLM ke Brussels.

Sebenarnya aku agak segan membicarakan masalah teknis persiapan ataupun materi perundingan dengan unit ESASC. Hal ini semata-mata karena untuk mengurangi isu-isu yang tak perlu dikembangkan oleh para pihak yang terlibat. Meskipun aku juga sadar bahwa dunia kini tiada batas lagi. Semua informasi dari manapun dapat segera terhubung melalui jaringan maya dan ditangkap dimana-mana. Jadi aku hanya berharap cerita ini tak akan menambah “kekisruhan” di tanah air.

Sewaktu aku berangkat, baru mendarat di Singapore, sudah menerima pertanyaan melalui SMS dan telepon dari media dan wartawan dari Jakarta yang bertanya macam-macam hal seputar EU Operating Ban dan misi perjalanan ke Brussels.

Sebagian besar aku tutup mulut dan hanya menjawab secara diplomatis atau kadang-kadang aku jawab dengan gaya setel “bloon” seperti orang yang tak tahu-menahu perihal EU Operating Ban atau misi perjalanan ke Brussels.

Berdasarkan tanggapan para kawan-kawan di Eropa (network yang aku punyai di eropa), tampaknya misi kali ini cukup mendapat tanggapan yang positip dan disambut secara antusias di sini. Semoga saja pihak Uni Eropa dan pihak Indonesia sudah sama-sama pada kesepakatan bahwa "blacklist penerbangan untuk Indonesia harus segera berakhir". Namun sudah barang tentu segala sesuatunya perlu didukung data-data dan bukti teknis (bukan diplomasi semata).

Sekedar informasi, sewaktu UE memutuskan EC Operating Ban itu cukup didukung oleh 2 perwakilan anggota negara Uni Eropa, tapi sewaktu akan "mencabut"nya (delisting atau ban removal) harus didukung oleh semua anggota perwakilan negara Uni Eropa.

Bukankah ini situasi yang sulit?

Pada sisi lain, aku juga dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang sangat “provokatif”, jika EC blacklist untuk Indonesia dicabut, lalu kapan GA akan kembali terbang ke Eropa? Jika ternyata masih lama, lalu untuk apa Operating Ban buru-buru dicabut?

Susah nian menjawab pertanyaan semacam itu. . . (kenapa harus GA yang menjawab?)

Jika aku jawab “kami segera akan membuka rute penerbangan ke Eropa” nanti malah dianggap seperti orang tak tahu diri tapi sebaliknya jika dijawab “kami belum punya rencana atau baru rencana untuk terbang ke Eropa tahun depan” lantas malah dibalik dikomentari, “Wah, ini  berarti nambahi persaingan pasar maskapai jalur Asia-Eropa yang sekarang sudah padat tak karuan”.

Aku lebih meilih menjawab lirih begini "kita akan selesaikan satu-satu per satu, yang jelas kita berusaha keras agar EC Operating Ban dapat dicabut dahulu . . . . Dua tahun berusaha, rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan komitmen kami terhadap perbaikan faktor keselamatan penerbangan di Indonesia dan dalam tubuh Garuda Indonesia"

Dalam posisi dan situasi saat ini, seharusnya sudah tak ada lagi saling mengutarakan "pro-kontra" atau "setuju-tak setuju". Semua pihak harus "seia-sekata" satu tujuan saling bergandengan tangan mendukung upaya pencabutan Operating Ban ini.

Ini misi bangsa, misi negara, misi maskapai, misi macam-macam yang jangan lagi dijadikan misi pribadi atau misi politis seseorang atau sekelompok orang.

Pagi ini rencananya akan dilakukan "konsolidasi" materi teknis langsung di kantor KBRI Belgia.

Jadual pertemuan delegasi Indonesia dalam Sidang ECASC hari ini adalah jam 3 sore.

Sementara itu, sidang ECASC sebenarnya sudah digelar mulai pagi ini jam 8 di  ...... (Salah satu kantor European Commission Air Safety Committee) s/d tanggal 2 Juli 2009.


This is it! Now or Never!

Brussels, 30 Juni 2009

Novianto Herupratomo

Powered by Telkomsel BlackBerry®