Tuesday, July 23, 2013

Saur Yuuuuuk DAY 14


Aku menatap ibuku. Wanita yang telah membesarkanku dengan kasih sayang. Tangannya yang telah berkerut dimakan usia membelai rambut panjangku. Sorot matanya memencarkan sebuah harapan besar kepadaku. Aku tertunduk. Pandanganku menyapu lantai kamar. Detik berikutnya air mataku berderai.
Betapa beratnya untukku mengabulkan permintaanya. Selama ini ibuku tidak pernah mengharapkan apa-apa dariku. Selama ini dia mengorbankan apa yang ada padanya agar aku bisa tetap kuliah hingga selesai. Namun setelah aku menjadi seorang sarjana dengan perjuangan yang berat di tanah perantauan, aku harus mengubur dalam-dalam impianku untuk menjadi seorang insinyur.

“Ibu tidak punya pilihan lain” suaranya yang serak menghembus ke dinding telingaku.
Air mataku terus mengalir tak tertahan lagi.

“Ibu berharap kamu setuju” ucapnya dengan dialek bugis yang kental.
“Ibu mungkin tidak punya pilihan tapi saya punya hak untuk memilih” kataku diantara isak tangis.

“Ayahmu sudah memutuskan semuanya. Sudah tidak ada lagi gunanya kita bersuara. Kamu tahu sendiri ayahmu. Dia tidak mungkin akan merubah keputusannya”
“Aku tidak mencintainya, bu! Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya” sergahku membela

“Ibu juga dulu menikah dengan ayahmu karena dipaksa. Tapi kami bisa hidup rukun sampai sekarang”
“Tapi itu dulu, bu, Sekarang zaman sudah berubah” kataku putus asa.

“Zaman bisa berubah tapi ada yang tidak pernah bisa berubah. Cinta. Kamu bisa mencintainya setelah kalian hidup bersama nanti. Seperti ibu dan ayahmu dulu” kata ibuku yang pensiunan guru SD.
“Aku mencintai orang lain, bu. Kami sudah berjanji untuk sehidup dan semati.”

“Hidup dan mati ditangan Tuhan, nak. Kamu tahu kalau kamu menolak pinangan ini maka harga diri keluarga kita akan hilang” bujuk ibu
Aku sudah kehabisan kata-kata untuk kujadikan untaian kalimat yang dapat menggambarkan isi hatiku. Aku merebahkan diriku di pembaringan. Aku terlelap dalam tangisan panjang. Dulu aku selalu menolak semua lamaran pria yang ingin menjadikanku sebagai pendamping hidup mereka. Bahkan sejak aku lulus SD ada yang berani melamarku tapi alasanku menolak mereka karena aku masih ingin sekolah. Namun sekarang, Aku tidak bisa lagi menolak karena lamaran telah diterima oleh ayahku tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu

#####

“Aku mencintaimu, Ana”
Kalimat itu kembali diucapkannya. Meski lewat ponsel tapi aku bisa merasakan kejujurannya.

“Aku juga. Tapi kamu tahu sendiri, aku tidak mungkin mengubah semua rencana keluargaku.”
“Aku tidak akan menikah selain dengan dirimu” janji Dewantara dengan tegas.

Aku hanya diam.
“Cintaku padamu bukan cinta tersisa. Aku tidak sempurna tapi aku mencintaimu dalam kesempurnaan. Cintaku padamu tak akan pernah kering selama samudera tetap berombak. Cintaku padamu tak akan pernah berubah sekalipun tubuhku menyatu dengan tanah”

“Aku tahu itu! Aku percaya!” kataku lemah
“Kita kawin lari saja, Ana!” ajak Dewantara

“Tara! Itu tidak mungkin. Itu aib bagi keluargaku” kataku galau

“Kita tidak ada pilihan lain” Dewantara kehabisan kata-kata.
Aku menghembuskan nafasku dengan berat diantara dinginnya angin malam. Kenapa hidup harus memilih? Kenapa setiap pilihan yang ada selalu berat dan sulit untuk diputuskan? Meski aku tahu jawabannya, aku tetap bertanya dalam hati. Hidup penuh dengan resiko. Setiap pilihan penuh dengan resiko. Tapi bukan hidup namanya kalau tidak ada resiko didalamnya. Resiko dari hidup adalah meninggal dunia. Resiko dari usaha adalah kegagalan. Resiko dari mencintai adalah tidak bisa memiliki seutuhnya orang yang kita cintai.

“Aku berjanji padamu, kita akan bersama satu satu hari nanti” kataku menghibur diri
“Tapi sampai kapan aku harus menunggu?”

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Dewantara. Tuhankah aku sehinga aku mengetahui apa yang akan terjadi besok? Aku hanya seorang gadis Bugis yang terikat dengan adat istiadat.
“Aku percaya kita akan bersama meski aku sendiri tidak tahu kapan waktunya. Aku hanya menggantungkan pengharapanku kepada Yang Maha Kuasa.”

Aku menutup pembicaraan hari itu dengan sebuah undangan agar Dewantara hadir di hari pernikahanku nanti. Aku tahu itu akan menyakiti hatinya.

######

Air mataku tak terbendung lagi saat melihat Dewantara hadir dipernikahanku. Betapa hancurnya hatinya ketika melihatku bersanding dengan pria lain. Dengan pria yang hampir seusia ayahku. Kalau saja pria itu bukan orang kaya dan terpandang, ayahku tidak mungkin akan menerima pinangannya. Apa lagi uang maharnya yang sangat besar. Aku masih beruntung karena masih memiliki kesempatan kuliah. Sementara banyak gadis Bugis lainnya menikah di usia yang sangat dini. Bahkan anak tetanggaku sendiri, terpaksa berhenti sekolah karena ada yang melamarnya. Dia hanya lulusan SD saja. Haknya untuk meraih cita-citanya dipasung oleh ego orang tuanya.
Betapa sulitnya menjadi gadis Bugis sepertiku. Gadis yang hanya dipandang sebagai pelayan untuk suaminya dan alat untuk melahirkan ahli waris bagi suaminya. Aku tersenyum bahagia jika melihat ada gadis bugis yang berhasil meraih cita-citanya meski kadang merasakan perihnya dijuluki perawan tua oleh ibu-ibu penggosip yang hidup seperti tempurung dalam kelapa karena tak pernah melihat dunia luar.

Dari kecil aku memegang prinsip “Maradeka Towajoe Adena Napopuang( *Artinya secara bebas :maradeka to wajoe –>> bahwa orang wajo itu merdeka, adena napopuang –>> hanya ade (konstitusi) yang dipertuan. Wajo merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan)
Ketika aku diperhadapkan antara cinta, cita-cita dan keluarga yang menjunjung tinggi adat istiadat aku ingin memilih meraih cita-citaku lalu menggapai cinta. Tapi sayang aku tidak bisa memilih.

Setelah melakukan semua ritual adat pernikahan aku sudah memutuskan. Keputusanku tak akan bisa berubah lagi. Hanya aku, Dewantara dan Tuhan yang tahu keputusan yang telah kubuat. Aku sudah melakukan bagianku sebagai seorang anak dengan mengikuti keinginan kedua orang tuaku dan sekarang aku ingin mengikuti kata hatiku. Hati yang penuh dengan cinta. Aku berharap keputusan dan kenekatanku akan menjadi pelajaran bagi banyak orang. Aku tidak akan menyerahkan keperawananku kepada orang tidak aku cintai meski dia suamiku sendiri.

######

Aku terus berlari bersama Dewantara diantara gelapnya malam. Jantungku berdetak dengan kencang. Aku sudah kelelahan berlari menelusuri hutan hampir dua jam menelusuri hutan. Apa lagi resepsi pernikahan telah menguras banyak tenagaku. Akhirnya aku dan Dewantara memutuskan berhenti sejenak.
“Menyerahlah kalian!” teriak seseorang yang kukenal. Itu suara ayahku. Terdengar lolongan anjing pemburu diantara suara langkah kaki orang banyak. Aku tidak tahu pasti berapa jumlah orang yang mengejarku dan Dewantara.

Aku menatap Dewantara dalam ketakutan. Dia hanya tersenyum. Sebuah senyuman pahit. Dia menarik tanganku dan mengajakku berlari. Kami terus berlari dan dikejar oleh orang sekampung. Rasa lelahku hilang seketika dan bergantikan ketakutan. Akankah kaki kami berhenti. Tak ada lagi tanah yang bisa kami pijak. Dihadapan kami berdua menganga sebuah jurang yang dalam. Aku memalingkan kepalaku ke belakang. Ayahku dan kawanannya semakin mendekat. Aku kembali menatap Dewantara diantara nafasku yang memburu.
Dewantara memelukku. Pelukan yang membuatku damai. Aku menatap kilauan badik yang terpantul sinar bulan digenggaman ayahku yang berjarak beberapa puluh meter dari tempatku dan Dewantara berdiri.

“Kita sudah mengikrarkan janji setia sehidup semati. Hari ini ikrar itu akan terkabulkan” ucap Dewantara pelan dan lembut di daun telingaku.
Kami saling bertatapan. Sorot matanya tak pernah berubah semenjak aku mengenalnya pertama kali. Tatapan yang selalu dan selalu saja menggetarkan hatiku.

“Tidak ada yang mampu memisahkan kita selain maut karena cinta kuat seperti maut” balasku.
“Menyerahlah kalian!”

Detik berikutnya aku dan Dewantara berlari sekuat tenaga sambil berpegangan tangan. Jurang tajam menjadi saksi bisu kekuatan cintaku kepada Dewantara. Waktu seakan berhenti ketika melintasi ruang kosong yang menjatuhkan berat badanku. Waktu benar-benar berhenti ketika tubuhku terhempas di bebatuan raksasa. Tak ada kesempatan lagi untukku mengucapkan kata cinta. Tak ada penyesalan yang ada sebuah kisah tragis.
sumber : http://fiksi.kompasiana.com/group/prosa/2010/08/27/kisah-tragis-gadis-bugis/

Tahukah anda, bahwa hadiah terindah bagi sesama manusia tak lain adalah KEBEBASAN.
Saur Yuuuuuk,

Doa hari – 14
Yaa Allah! Janganlah. Engkau hukum aku, karena kekeliruan yang kulakukan. Dan ampunilah aku dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan.

Janganlah Engkau jadikan diriku sebagai sasaran bala' dan malapetaka dengan kemualian-MU, Wahai Kemulian kaum Muslimin.
Salam,
NV

Monday, July 22, 2013

Saur Yuuuuuk DAY 13



Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta. Si gadis tampil luar biasa cantik. Banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebaliknya, tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikannya. Tapi, saat pesta usai, dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, dia mengangguk.

Mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop. Si pria sangat gugup, tangannya acap bergetar dan dia tak berkata apa pun. Si gadis yang merasakan ketegangan itu, kian tak nyaman. Dia pun berkata, “Tidakkah kita lebih baik pulang saja?” Namun, tiba-tiba pria itu berkata, untuk pertama kalinya, sambil melambai pada pelayan, “Bisa minta garam untuk kopi saya?” Semua orang yang mendengar, memandang dengan aneh ke arah si pria itu. Si pria, jelas, wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya, dan dengan tenang, meminumnya. Si gadis dengan penasaran bertanya, “Kenapa kamu bisa punya hobi seperti
ini?”

Si pria menjawab, “Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut. Saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan air laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya: ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana”

Begitu kalimat terakhir usai, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya. Si gadis berpikir, bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana, masa kecilnya, dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat, juga menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua. Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya: dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli, betul-betul seseorang yang sangat baik.
Ah, dia hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu. Untung ada kopi asin.

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya. Dan setiap sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia selalu membubuhkan garam di dalamnya, bukan gula karena ia tahu bahwa itulah yang disukai suaminya. Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia dan meninggalkan sebuah surat.

Dengan gemetar, si istri membaca surat itu:
“Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku bersamamu adalah dusta belaka. Meski hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu tentang kopi asin. Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu. Sebenarnya saya ingin minta gula, tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk mengubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman. Jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Awal keakraban dan mata cinta kita. Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini untuk menjelaskannya padamu, tapi saya terlalu takut. Karena saya telah berjanji untuk tidak berbohong sekali pun. Sekarang saya sekarat. Saya tidak takut apa-apa lagi, jadi saya katakan padamu yang sejujurnya: saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya sungguh tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu dan saya tidak pernah sekali pun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.”

Air mata si istri betul-betul membuat surat itu menjadi basah.

Kemudian hari, bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam? Si wanita itu pasti menjawab, “rasanya manis” dengan senyuman dan dua titik air mata di pipi

Saur Yuuuuuk,

Doa hari – 13

Yaa Allah! Sucikanlah diriku dari kekotoran dan kejelekan. Berilah kesabaran padaku untuk menerima segala ketentuan. Dan berilah kemampuan kepadaku untuk bertaqwa, dan bergaul dengan orang-orang yang baik dengan bantuan-MU, Wahai Dambaan orang-orang miskin.

Salam,
NV

Sunday, July 21, 2013

Saur Yuuuuuk DAY 12



Hari-hari terakhir pekerjaan kantor sangat melelahkan. Tidak ada waktu untuk ‘memanjakan’ diri sendiri. Bahkan saat akan beristirahat pun, segala masalah dan tugas dalam pekerjaan selalu menghantui pikiran. Pagi ini, hari Senin, aku datang ke kantor dengan semangat yang sedikit lebih baik, setelah pada akhir pekan aku sempat untuk beristirahat. Saat kumasuki ruangan kerjaku, telpon berdering. Aku angkat dan terdengar teriak dari ujung telpon “Ke ruangan saya sekarang”.

Wah ada apa ini? Pagi-pagi boss sudah marah-marah.

“Bagaimana ini? Kerja nggak pernah beres. Saya harus presentasi hari ini, bahan yang kamu sediakan sama sekali tidak berguna. Buang-buang waktu saya saja”. Aku hanya terdiam, dalam hati aku sangat muak dan sebal mendengarnya. Minggu yang lalu, aku sudah ingatkan. Bahwa bahan presentasi yang beliau minta tidak akan mungkin dapat di selesaikan. Waktunya terlalu singkat. Sedangkan materinya sangat banyak. Saya usulkan untuk menggunakan presentasi yang sudah ada, dengan pembaharuan sedikit.

Sebenarnya kalau mau jujur. Saya bisa saja menyelesaikan presentasi tersebut kalau mau mencurahkan lebih banyak waktu untuk mengerjakannya. Tapi, terus terang saya sudah malas dengan segala keinginan boss-ku. Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Pergi pagi pulang malam. Dari Senin sampai Sabtu. Dan segala pekerjaanku tidak pernah dihargai olehnya. Jadi aku pikir “masa bodoh dengan segala pekerjaan kantor. Aku sudah cape. Terserah deh, nanti jadinya apa. Gua kagak peduli”.

Jadi Sabtu kemarin aku habis kan waktu dengan tidur seharian. Membaca buku, menonton televisi, dengar kaset. Laptop yang tegeletak di atas meja tidak aku sentuh sedikitpun. “Masa bodoh” pikirku. Boss ku masih saja mengoceh di depanku. Aku berpura-pura tertunduk dan menyesali segala kesalahanku. Padahal dalam hati, aku masa bodoh, setiap perkataannya tidak ada satupun yang hinggap didalam pikiran. Setelah 15 menit akhirnya keluar juga perkataan yang aku tunggu-tunggu “Ya sudah, Keluar kamu”

Aku kembali keruangan, Duduk, Kunyalakan komputer, seolah-olah hari ini tidak ada apa-apa. Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah jam 12. Saatnya makan siang. Langsung saja kubuka bekal yang aku bawa dari rumah. Dengan tergesa-gesa kusantap setiap sandok makan siangku. Hari ini aku harus jalan lagi keluar kantor. Sendok terakhir telah masuk ke dalam perut. Wah, kenyang juga.

Kubenahi segala dokumen yang di butuhkan dan segera keluar kantor mencari taxi.

“Daerah kota pak” Seruku pada supir taxi.

“Kotanya di mana pak?” dia menimpali.

“Wah, namanya apa yah?” aku sendiri tidak begitu ingat.

“Nanti saya tunjukkan jalannya kalau sudah sampai di sana”

“Baik Pak” Suasana hening.

Tidak beberapa lama pak supir berkata, “Tadi orang yang pakai taxi ini sebelum Bapak, naik dari Taman Anggrek”. Dekat amat pikirku. Kantorku ada di daerah Citraland. “Kok mau sih pak?” ucapku.
“Wah tidak baik menolak rejeki. Kalau Tuhan sudah kasih berkat, masa kita tolak” ujarnya dengan logat batak yang masih terasa.

“Kalo supir lain sih pasti nolak. Kalau saya, ngak masalah, dekat atau jauh toh rizki berkat dari Tuhan”

“Wah, berfilsafat dia” pikirku.

“Tapi sebenarnya untung juga sih kalau nariknya deket. Tadi saja saya di kasih uang 10.000, padahal argonya ngak sampe 5 rebu. Saya senang juga. Tapi sebenernya saya ngak tega kalo mesti nolak. Dia kan pasti mau buru-buru. Bagaimana rasanya, sesudah duduk, eh malah saya tolak. Sakit hati kan” jelasnya

“Iya juga yah” pikirku. Suasana hening kembali.

Kuperhatikan wajahnya dari kaca mobil. Keliahatannya ceria, tidak seperti sopir-sopir taxi yang lain yang rata-rata wajahnya cemberut.

“Bapak sudah lama jadi sopir taxi” Tanyaku memecah keheningan.

“Baru empat tahun Pak”

“Sebelumnya kerja di mana ?”

“Dulu saya kerja di perhotelan.”

“Kerja di bagian apa Pak ?”

“Manager operasional” Hah? Tidak salah dengar? Manager? Nggak mungkin ah.. “Anak buahnya banyak pak ?”, tanyaku sedikit menyelidik.

“Ada sekitar 100 orang”.

“Terus, koq sekarang malah jadi sopir taxi”

“Wah, panjang ceritanya Pak.”

“Oh”, gumanku dan tidak bertanya lebih lanjut, kelihatannya ada kenangan pahit yang dia alami. “Biasalah pak korban kena sikut”, ujarnya meneruskan “Padahal dia teman baik saya. Tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu. Tapi buat saya itu ngak masalah. Saya percaya Tuhan pasti akan tetap pelihara saya. Buktinya saya langsung bisa dapat pekerjaan lagi. Walaupun tidak sehebat seperti dahulu. Yah, sudah cukup lah, untuk kebutuhan sehari-hari”.

“Kenapa Bapak tidak mencoba melamar di hotel lain?”

“Nama saya sudah rusak Pak.”

“Pasti karena di fitnah oleh teman baiknya itu”, pikir ku. Kuperhatikan lagi wajahnya. Tetap ceria seperti tadi. Tidak Nampak terbeban. “Lebih enak jadi sopir atau kerja seperti dulu Pak ?”, tanyaku.


“Wah, enak atau enggak tergantung hati kita Pak. Pokoknya kita mesti sadar, bahwa apa yang kita punya saat ini, Tuhan yang memberi. Mengucap syukur senantiasa. Sukacita bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kita. Jadi kalau ditanya lebih enak mana, dulu atau sekarang, jawabannya yah: dua-duanya. Mau jadi apa aja ngak masalah, yang penting ada rasa syukur, pasti bahagia sukacita itu datang dengan sendirinya.”

Hmmm, hari ini aku disadarkankan oleh seorang supir taxi.

Aku jadi teringat akan nasehat yang mengatakan “Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah segala sesuatu seperti kita melakukan untuk Tuhan”.

Saur Yuuuuuk,

Doa hari – 12

Yaa Allah! Hiasilah diriku dengan penutup dan kesucian. Tutupilah diriku dengan pakaian qana'ah dan kerelaan. Tempatkanlah aku di atas jalan keadilan dan sikap tulus. Amankanlah diriku dari setiap yang aku takuti dengan penjagaan-MU, Wahai penjaga orang-orang yang takut.

Salam,

NV