Friday, February 8, 2013

Maling Avtur di Bandara



Maling Avtur di Bandara 13 Jan 2013
 
Sebenarnya ini cerita lama bukan hanya April th 2012 dan Januari 2013, atau barangkali itu kasus yang kebetulan sedang ditangani Polisi he he he

Setiap pesawat yang parkir menginap (Remain Over Night) di apron maka dilakukan maintenance program yang disebut Daily Inspection. Salah satu elemen dari Daily Inspection itu adalah memastikan tak ada endapan air dalam tangki bahan bakar pesawat terbang. Umumnya pesawat terbang, tangki bahan bakarnya terletak di seluruh bentangan sayap disebut Main Tank (Kiri dan Kanan) dan beberapa pesawat dilengkapi dengan Center Tank atau Auxiliary Tank yang letaknya di perut pesawat antara Sayap Kiri dan Sayap Kanan.

Petugas teknik biasanya akan membuka sedikit Fuel Drain yang terletak di bagian bawah tangki bahan bakar dengan tujuan untuk mengeluarkan endapan air dalam tangki. Tentu saja, bahan bakar yang keluar harus ditampung dalam ember agar tak membasahi pelataran apron.

Nah, proses draining ini dilakukan manual serba kira-kira sehingga ada saja yang nge-drain terlalu banyak (entah sengaja atau tidak) sampai ember penuh berisi avtur.

Idealnya avtur bekas drain tsb diperiksa secara seksama apakah ada kandungan air?

Avtur bekas drain tsb dikumpulkan pada suatu wadah (biasanya drum besar) namun ada saja yang "curi-curi" membawa pulang avtur bekas drain ke rumah karena sebenarnya oktan avtur tak terlalu beda dengan minyak tanah, sehingga lumayan untuk pengganti minyak tanah gratisan buat kompor di rumah.

Aku menyebutnya sebagai "maling kecil"......

Yang harus dihindari itu adalah menggunakan avtur bekas drain untuk dimasukkan lagi dalam pesawat terbang!

Maling Avtur jenis kedua adalah para pengepul Avtur bekas drain untuk dibawa keluar area bandara dalam jumlah besar untuk komoditi perdagangan gelap. Ini jelas permainan terencana antara petugas teknik, security maskapai dan security bandara.

Sampai disini, perlu dijelaskan bahwa keamanan perimeter pesawat adalah tanggung-jawab maskapai, sedangkan security bandara bertanggung jawab keamanan di area Air Side dan Land Side suatu bandara.

Namun ada saja maskapai yang "nakal" mengabaikan keamanan pesawat terbang dan aset lainnya diserahkan begitu saja pada keamanan bandara.

Maling Avtur jenis ketiga agak terpelajar.

Pesawat terbang dilengkapi indikasi isi tangki bahan bakar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk indikator "berat" dengan satuan; Pound atau Kilogram.

Sementara itu supplier avtur (kalau di Indonesia adalah Pertamina Aviation) umumnya mempergunakan satuan Liter (supplier di luar negeri mempergunakan Liter atau Quarts).

Berdasarkan rumusan Bobot = Volume X Berat Jenis, maka kedua perhitungan itu dilakukan verifikasi.

NOTE: Berat Jenis benda cair selalu dipengaruhi faktor temperatur dan tekanan udara. Berat Jenis Avtur di Indonesia rata-rata sekitar 0,78.

Nah, atas dasar ini, beberapa teknisi pesawat terbang (kata orang "oknum") melakukan kelalaian disengaja dimana Berat Jenis ini dirubah-rubah semaunya sehingga jumlah bahan bakar dalam liter dinaikkan (dengan harapan ditemukan beratnya sesuai kebutuhan suatu penerbangan). Selisih jumlah liter tsb kemudian "dimainkan" dengan supplier dan dilipat dalam bentuk uang!

Pilotnya tak tahu-menahu karena indikasi di kokpit sudah "klop" beratnya sesuai permintaan.

Serupa dengan "permainan berat jenis", untuk wilayah Indonesia Timur dimana avtur dibeli mempergunakan drum (tak ada truk avtur) maka biasanya ada permainan 2 atau 3 pihak antara pilot, teknisi dan dispatcher. Ini permainan penggelapan bahan bakar yang terjadi internal maskapai. Umumnya selisih antara jumlah avtur yang "tercatat" naik dalam pesawat dengan jumlah avtur yang sebenarnya diorder "dimainkan" dimana hasilnya berupa "uang yang dilipat" dibagi dengan perbandingan 60% buat pilot dan 40% petugas darat.

Maling Avtur jenis keempat atau kaum Intelektual biasanya dilakukan oleh bagian Pengadaan Kantor Pusat maskapai dengan Pusat Penjualan Avtur. Ini permainan dari tingkat komisi sampai proses verfikasi bayar tagihan. Permainan jenis terakhir ini hanya dimainkan kaum berdasi dan diluar jangkauan para pelaku di lapangan.

Sekedar tahu, sekitar th 1985an, aku pernah melakukan survey investigatif atas kehilangan avtur dengan modus jenis 1, 2 dan 3.

Rata-rata "kehilangan" avtur sekitar 100 sd 300 liter setiap penerbangan GA di domestik saja.

Atas dasar itu, diberlakukan penggunaan Fuel Order jenis baru dimana order fuel harus diminta oleh pilot dalam bentuk "liter" (volume) sehingga tak ada kesempatan mempermainkan berat jenis maupun sisa bahan bakar dari penerbangan sebelumnya (perhitungannya dibuat "klop-klopan" antara penerbangan sebelumnya dengan penerbangan berikutnya) sehingga tak ada kehilangan menyolok akibat fuel drain.

Sebagai akibat perubahan pola Fuel Order jenis baru yang harus ditanda-tangani 3 pihak; pilot, teknisi dan supplier maka "kehilangan" bahan bakar dapat diminimalisir namun aku nyaris dimusuhi semua teknisi yang terusik bisnis sampingan jualan avtur bekas he he he

Jadi yang namanya maling ya tetap maling, mau oknum ataupun komplotan. Hal begini tak dapat ditolerir karena bagian dari integritas seseorang apalagi ini menyangkut profesi.

Sudut pandang yang lain, perimeter pesawat merupakan area terbatas yang harus dijaga keamanannya. Jika ada kegiatan "maling" avtur maka sesungguhnya sistim keamanan maskapai tsb patut dipertanyakan karena berarti keamanannya sangat "terbuka" sehingga mudah "disusupi".

Jakarta, 13 Januari 2013
Suwun,
NV

No comments:

Post a Comment