Friday, February 8, 2013

Perjalanan ke Monrovia Liberia DAY 1



Perjalanan ke Monrovia Liberia DAY 1


Suasana mendung menyelimuti kota Jakarta dan sekitarnya.


Rabu, 30 Januari 2013 sekitar pk 17:00 WIB pesawat Airbus A330-300 meninggalkan bandara Halim Perdana Kusuma menuju ke Monrovia ibu kota Liberia melalui Dubai Uni Emirat Arab.

Penerbangan ke Dubai memerlukan waktu 8 jam 40 menit mengarah ke Barat Laut, menyusuri Selatan pulau Sumatera melewati sebagian besar wilayah India dan langsung menuju Dubai.

Ada 2 kali sajian makan selama penerbangan ini, makan malam dan supper berupa hot snack. Namun sebagian besar penumpang nampak tertidur lelap setelah sajian makan malam selesai dihidangkan.

Cuaca cukup cerah malam ini, bintang bertaburan berkerlap-kerlip di angkasa malam namun adanya "jet stream" di wilayah India menimbulkan guncangan cukup keras selama 20 menit yang memaksa penerbang untuk menurunkan ketinggian jelajah dan memperlambat laju pesawat untuk mengurangi guncangan yang terjadi mana kala penumpang sedang asyik tertidur.

Pesawat mendarat hampir tengah malam waktu Dubai untuk mengisi bahan bakar dan melakukan pertukaran awak pesawat untuk meneruskan penerbangan selanjutnya.

Kesibukan bandara Dubai pada tengah malam justru mencapai puncaknya, pesawat berputar kesana kemari menunggu giliran untuk mendarat karena kepadatan lalu-lintas udara di sekitar Dubai.

Kota Dubai dan bandara Dubai terang-benderang tak ubahnya kesibukan siang hari. Pesawat dan berbagai kendaraan berseliweran campur baur di bandara Dubai, semuanya menciptakan keasyikan untuk diamati karena mereka dilengkapi lampu-lampu berputar (rotating beacon light) berwarna jingga dan merah berkedip-kedip di pelataran parkir bandara Dubai. Mirip serombongan Kunang-Kunang besar yang bermain pada malam hari.

Sekitar pukul 1 dini hari, pesawat meninggalkan Dubai menuju ke Monrovia ibu kota Liberia yang terletak di pesisir Barat benua Afrika. Penerbangan Dubai ke Monrovia memerlukan waktu 10 jam 40 menit! Ternyata luas juga benua Afrika dan jarang yang menyadari kalau pesisir Barat Afrika letaknya sejajar dengan wilayah Inggris dan Irlandia yang menjadikan jam setempat menunjukkan GMT +0.

Penerbangan ke arah Timur sejak dari Halim PK menjadikan malam terasa sangat panjang. Hanya sekitar 1 jam terang matahari sejak meninggalkan Halim PK dan 2,5 jam kemudian menjelang mendarat di Monrovia, selebihnya adalah malam yang panjang padahal sudah lebih dari 22 jam perjalanan!

Kami mendarat di Monrovia pagi hari pukul 8 (atau pk 15 WIB) dengan cuaca mendung tipis.

Ketika pesawat berputar di atas laut mendekati bandara Roberts, hatiku berdebar karena ini merupakan pengalaman perjalanan pertama kali melewati Samudra Atlantik dari sisi Barat. Belasan tahun lalu, aku pernah berdiri di sebuah tebing laut di pinggiran wilayah kota Dublin Irlandia memandangi Samudra Atlantik yang megah namun baru kali benar-benar terbang di atasnya meski hanya sebentar.



Khayalanku ingin melihat sebuah negara (atau kota) mungil yang indah dan resik di Afrika mendadak sirna setelah sesaat memperhatikan suasana bandara International Roberts, Monrovia.

Negara Liberia merupakan negara kecil yang terletak di wilayah Afrika Barat yang berbatasan dengan Sierra Leone pada sisi Barat, Guinea di Utaranya dan Pantai Gading di sebelah Timur serta Samudra Antlantik pada sisi Selatannya.

Sejarah terbentuknya negara Liberia diawali tahun 1822 dimana the American Colonization Society memprakarsai pengembalian orang hitam Amerika (African-American) ke benua Afrika dan menetapkan Liberia sebagai lokasi penempatan mereka. Pada tahun-tahun selanjutnya, banyak pula orang hitam Amerika yang suka-rela berimigrasi ke Liberia yang kemudian mereka disebut Americo-Liberia yang merupakan leluhur bagi sebagian besar rakyat Liberia saat ini.

26 Juli 1847 warga Americo-Liberia menyatakan kemerdekaan Republik Liberia dengan nama ibu kota Monrovia yang diambil dari nama James Monroe, presiden Amerika kelima yang sangat mendukung gerakan kolonialisasi. Tahun 1980 terjadi sebuah kudeta militer dipimpin oleh Master Sergeant Samuel Kanyon Doe mengakhiri kekuasaan Americo-LIberia dan peristiwa itu memicu terjadinya ketidak-stabilan ekonomi, politik dan perang saudara yang menghancurkan Liberia. Perjanjian Perdamaian ditanda-tangani tahun 2003 membuahkan Pemilu pada tahun 2005 dimana terpilih Presiden Ellen Johnson Sirleaf (wanita Americo-Liberia) selama 2x periode Pemilu tahun 2005 dan 2011 hingga kini.

Republik Liberia dengan luas wilayah 111.369 km2 beriklim tropis dengan jumlah penduduk 3,7 jiwa yang berbahasa utama Inggris dengan PDB Per Kapita hanya USD 500an.

Kami meninggalkan bandara Roberts segera terlihat "kesahajaan" negeri ini. Tentara bersenjata berseragam United Nation berjaga sepanjang jalan. Pasukan Polisi yang berpatroli juga berseragam United Nation Police. Jalanan beraspal mulus namun cukup sempit untuk dipergunakan berpapasan. Suasana pedesaan sangat terasa meskipun semua tanda-tanda dan papan nama menggunakan bahasa Inggris. Jalanan cukup lengang, sesekali terlihat penduduk setempat terlihat berjalan kaki menyusuri sisi jalan. Beberapa penduduk terlihat mengambil air dari pompa-pompa air di tempat tertentu. Suasananya mirip di pedesaan Sumatera.

Kami menginap di sebuah hotel sekitar 1 jam perjalanan antara bandara dan pusat kota Monrovia. Sebuah hotel yang sederhana bahkan sangat sederhana lebih buruk dari pada hotel-hotel lokal di kota-kota Papua Barat.

Sulit untuk mengembalikan harapan untuk melihat kota kecil yang indah di Afrika.



Aku sedang berada di sebuah tempat "antah-berantah" dan mencoba tidur siang sambil menyesuaikan body clock dengan waktu setempat, jam menunjukkan pk 12 siang atau pk 19 WIB.

Monrovia, 31 Januari 2013
Salam hangat,
NV

No comments:

Post a Comment