Friday, February 8, 2013

Mengelola Konflik dengan Berpikir Positif




Mengelola Konflik dengan Berpikir Positif
Tulisan ini pernah saya kirimkan ke beberapa Millis pada minggu pertama tahun 2010
Minggu pertama awal tahun 2010 mestinya kita punya semangat baru untuk bertindak lebih baik dari tahun lalu.

Sering kita jumpai orang-orang di sekeliling kita bercerita panjang-lebar dan berkeluh-kesah tanpa sebab yang jelas tentang berbagai hal. Apa saja yang dilihat atau didengarnya menjadi bahan keluh-kesah yang mengasyikkan dan berkepanjangan.

Mereka acapkali lebih senang membicarakan "mendung" di hari yang sangat "cerah".
Lambat laun, suasana hati kita juga terbawa mendung jika terus-menerus menelan keluh-kesah mereka.

Mereka yang gemar berkeluh-kesah biasanya akan menimbulkan konflik-konflik dalam lingkungan kerja, pergaulan maupun di rumah sendiri.

Mengapa harus ada konflik?

Sebab masing-masing orang punya kepentingan berbeda terhadap satu masalah. Konflik juga kerap kali muncul karena persepsi diri kita yang keliru tentang suatu masalah. Konflik seringkali muncul justru karena cara pandang kita sendiri terhadap masalah itu sendiri yang artinya konflik muncul justru dalam diri sendiri sementara orang lain tak melihatnya sebagai sebuah konflik.

Konflik akan selalu muncul baik dipicu oleh lingkungan sekitar atau rekan kerja atau tuntutan kerja yang berbeda dengan kepentingan diri kita dan utamanya lagi muncul sebagai persepsi diri sendiri.

Bagaimana Mengelola Konflik?

Ulasan berikutnya tentang pernyataan-pernyataan di bawah ini:

///Bagi kebanyakan orang, tempat kerja merupakan tempat persaingan yang kejam///

Ini salah satu bukti persepsi diri yang berbeda terhadap suatu masalah.

Siapa kebanyakan orang yang mengatakan bahwa tempat kerja merupakan tempat persaingan yang kejam?

Tempat kerja adalah suatu lingkungan dimana kita dapat menjalankan dan mendarma-baktikan peran-fungsi diri kita kepada masyarakat sekaligus memperoleh penghasilan dari padanya dalam rangka menghidupi keluarga masing-masing. Tempat kerja bagi saya lebih mirip sebuah rumah yang berpenghuni seluruh karyawan sebagai sebuah keluarga besar yang digerakkan oleh sebuah manajemen organisasi dalam rangka mencapai sebuah visi dan misi ke depan.

Pekerjaan dan tempat kerja bukanlah sebuah tempat pertandingan atau sebuah ajang kompetisi dimana yang menang diagung-agungkan dan yang kalah dipermalukan. Tempat kerja sama sekali bukan ajang kompetisi yang kejam.

Tempat kerja adalah sebuah tempat dimana banyak orang saling menghormati dan bekerja-sama untuk memenuhi sebuah tujuan yang telah dicanangkan sebelumnya.

///Sementara itu sebahagian orang yang lain lagi (mungkin termasuk kita) merasa mandek, menemui jalan buntu atau terperangkap salam pekerjaan yang tidak mereka (kita) sukai-sekalipun gajinya besar. Lompatan dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tak memecahkan masalah persoalan, tidak mampu membuat mereka (kita): “betah” atau “cocok”. Apa yang harus dilakukan? Bagaimana agar tempat kerja--betapun jeleknya--bisa menjadi sahabat, bukan musuh Kita? ///

Sederetan kalimat di atas juga contoh lain mengenai persepsi diri yang belum tentu dianut oleh orang lain.
Saya merupakan salah satu diantaranya yang tak sepakat.

Jika kita merasa mandek, menemui jalan buntu atau terperangkap dalam pekerjaan yang tidak mereka (kita) sukai-sekalipun gajinya besar, lalu bagaimana?

Seorang rekan mengatakan bahwa ia bercita-cita menjadi seorang tentara. Ia berhasil masuk Tamtama dan 30 tahun kemudian ia masih seorang tentara Sapta-Marga. Apakah ia mengalami kemandegan?

Saya sendiri adalah sebagian dari contoh yang bercita-cita ingin menjadi penerbang dan tanpa saya sadari saya telah mengabdi lebih dari 28 tahun sebagai penerbang dengan pangkat Captain (yang tak mungkin naik jadi Jenderal), apakah saya mengalami kemandegan?

Ayah saya seorang guru Olah Raga semenjak lulus SGPD tahun 50an dan beliau wafat sebagai pensiunan Guru, apakah itu sebuah kemandegan?

Secara bertahap dan sangat pasti saya merasa bahwa diri mengalami evolusi yang semakin hari semakin baik dan saya tak pernah merasa mengalami kemandegan meski profesi saya tak berubah sama-sekali.

Jadi apa yang membedakan antara kemandegan dan evolusi perubahan pada diri seseorang? Tak lebih dari sebuah persepsi dan rasa syukur mengenai apa-apa yang telah hasilkan dan apa-apa yang kita peroleh selama ini.

Jika begitu, apa yang membuat kita betah dan cocok di tempat kerja?

Ini juga sebuah persepsi tentang sebuah nilai-nilai yang diyakini seseorang.

Ada seorang sahabat Arsitek yang terkenal di Jakarta. Saya utarakan sebuah keinginan, "saya ingin sebuah rumah yang didesain seperti itu, tampaknya cocok dan indah buat saya".

Saya kaget mendapat jawaban bahwa keindahan dan kesesuaian sebuah rumah itu bukan karena disainnya namun karena siapa penghuninya.

Betapapun megahnya sebuah bangunan jika para penghuninya berperilaku buruk maka rumah itu akan segera tampak buruk dan membuat yang tinggal di dalamnya merasa kotor dan tak nyaman.
Sebaliknya sebuah rumah sederhana namun ditempati oleh sebuah keluarga yang harmonis, resik, apik dan tertib akan memancarkan keindahannya dan membuat betah siapapun untuk tinggal dan mengundang keinginan para tamu mampir.
Rumah sederhana itu telah memancarkan keindahannya sendiri . . .

S
emenjak saat itu, ada sebuah lukisan rajutan tangan buatan istri yang di dalamnya tertulis "tiada tempat yang lebih indah selain rumah sendiri".
Lukisan itu masih ada dan selalu mengikuti kemanapun kami pindah rumah.
///Memang, tak seorang pun bisa menjamin bahwa konflik tak akan pernah terjadi di tempat kerja, sesempurna apa pun pekerjaan itu. Yang paling banter bisa dijamin adalah, pasti ada cara bijak untuk menyiasati konflik itu…….
Faktor-faktor tekanan yang biasanya bisa menjadi konflik dan kita di tuntut untuk bersikap secara arif & bijak jika menghadapinya :
  • Bos yang tidak adil & makan hati,
  • Rekan kerja wanita/pria yang menggoda,
  • Rekan sekerja yang berpandangan negative dan selalu mengkritik, mengeluh sepanjang waktu dan memberi pengaruh buruk,
  • Rekan-rekan kerja yang tidak memuaskan,
  • Godaan untuk melanggar batasan-batasan etika & moral,
  • Menurunnya minat terhadap pekerjaan yang membosankan, tanpa peluang promosi,
  • Tuntutan perusahaan yang terus-menerus, sementara kita tidak mungkin berkutik menentang tuntutan itu,
  • Tekanan deadline dan pengurangan karyawan baru baru ini yang membuat kita mengabaikan integritas dan berbohong mengenai berbagai kesalahan kecil,
  • Tekanan rekan sekerja yang meminta memperlambat kecepatan pekerjaan supaya yang lain tidak terlihat buruk atau supaya dapat mengambil jalur lembur lebih banyak, atau tekanan untuk kompromi dalam hal kualitas atau untuk menutupi kesalahan orang lain,
  • Takut meninggalkan pekerjaaan yang aman yang sedang di jalani, karena posisi tersebut sudah lama di impikan,
  • Ketegangan yang berkepanjangan dengan rekan kerja dan atasan,
  • Pertanyaan-pertanyaan yang mendesak tentang tujuan dan arah hidup kita.////
Semua pernyataan ini sungguh bernada persepsi negatif.
Sementara saya adalah jenis manusia yang berusaha berpikir selalu positif, jadi pernyataan-pernyataan tersebut sangat mudah saya balik:
  • Bos saya adalah orang yang lebih adil dibanding bos orang lain,
  • Godaan rekan kerja membuat saya semakin antusias dalam bekerja,
  • rekan kerja saya lebih banyak yang memberi solusi dari pada yang hanya berkeluh kesah,
  • saya nyaris tak pernah merasa tergoda untuk melanggar batasan karena sayalah yang mebuat batasan itu untuk diri sendiri,
  • saya selalu senang menyelesaikan tugas sebaiknya karena sayalah yang menentukan tuntutan pekerjaan kepada diri saya sendiri (meski itu untuk perusahaan). Dan untuk diketahui "saya bukan jongos dari siapapun" saya selalu menentukan ukuran pekerjaan untuk diri saya sendiri (sesuai kepentingan perusahaan).
  • saya sangat mencintai pekerjaan yang saya lakukan dan saya belum punya alasan kuat untuk meninggalkannya,
  • tujuan hidup saya sudah jelas dan gamblang serta semakin hari semakin saya sempurnakan.
Well, ini semua hanya masalah "persepsi" . . .
Saya akan menemukan banyak sekali alasan yang mendukung sebuah konsep berpikir negatif, sebaliknya saya juga tak terlalu sulit menyakini sesuatu atas dasar pandangan poisitif pada setiap masalah.

Bahkan untuk sebuah "kegagalan" saya akan mengatakannya "saya sukses mengetahui bahwa saya gagal".

Dan, "sukses itu tak ubahnya 10 kali gagal dan 11 kali berhasil"

Dengan cara berpikir seperti itu, saya hampir tak memiliki konflik atas tuntutan pekerjaan. Apapun tuntutan pekerjaan (dari perusahaan) selalu saya jadikan tuntutan kepada diri sendiri yang bahkan lebih sulit dari yang dituntut oleh perusahaan. Sehingga saya tak pernah menganggapnya sebagai tuntutan perusahaan namun cenderung sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri. Jika saya berhasil maka saya dapat pastikan hasilnya selalu lebih dari yang dituntut oleh perusahaan karena saya membuat ukuran yang lebih tinggi untuk diri sendiri. Jika suatu hari saya "gagal" saya juga tak akan menyalahkan siapa-siapa karena saya yang membuat ukuran keberhasilannya. Saya tak pernah merasa terpojok oleh tuntutan apapun karena saya adalah "tuan untuk diri sendiri" dan saya bukan "jongos bagi siapapun".

Sebagaimana ditulis o
l
eh FF Fournies dalam Coaching for Improved Work Performance, ada 4 alasan umum mengapa orang sering berkeluh kesah dan tidak melakukan unjuk kerja sebagaimana seharusnya;
 
  1. Mereka tidak tahu "apa" yang seharusnya dilakukan,
  2. Mereka tidak tahu "bagaimana" melakukannya,
  3. Mereka juga tidak tahu "mengapa" mereka harus melakukannya, dan
  4. Adanya rintangan di luar kendali mereka.
 
Tiga hal pertama menyangkut "diri kita sendiri" dan satu hal terakhir menyangkut "diri kita dan diluar diri kita".
 
Persepsi diri kita juga dapat dipermudah menjadi semua kegagalan adalah "diluar kendali kita". End of story dan kita gagal . . .
 
Khusus pada alasan terakhir, saya juga seorang "ekstrimis" sejati. Jika alasan kegagalan di luar kendali kita maka saya akan cari tahu "siapakah" yang punya kendali tersebut? Ia mungkin seorang manager, Senior Manager, Vice Presiden Executive Vice President, CEO atau Dirjen bahkan Menteri.
Begitu saya ketahui maka saya akan segera mempersiapkan dan menempatkan diri saya seperti mereka (meski saya tahu saya belum atau bukan jadi mereka). Itu salah satu cara saya mengarahkan diri saya menuju ke arah "menjadi mereka". Saya akan berpikir, berbicara dan bertindak seperti mereka yang jika gilirannya tiba saya akan menyelesaikan masalah yang "di luar kendali kita" tadi. Kadangkala saya sungguh-sungguh menjadi mereka belakangan hari dan kadangkala itu hanya sebuah jabatan "mereka" yang semu. Tak mengapa, karena yang penting saya telah belajar menjadi "mereka" . . . .
Jika suatu hari nanti saya menjadi "mereka" maka masalah yang saya hadapi hari ini sudah bukan menjadi masalah ketika saya menjadi "mereka" yang sesungguhnya.
 
Berdasarkan sebuah survey, kemana kita sering berpaling minta bantuan jika ada masalah pekerjaan?
 
  • 56% ke keluarga
  • 43% ke teman-teman
  • 38% ke Kitab Suci
  • 27% ke Buku-Buku lain
  • 16% ke Ahli Agama
  • 7% ke Ceramah para Pemimpin
  • 6% ke Bos atau Atasan
  • 4% ke Penasehat Ahli
 
Anda tahu, kemana saya akan minta bantuan?
Saya membiasakan diri untuk langsung menemui "Bos" pemberi kerja yang relevan sebab seringkali mereka adalah penasehat terbaik.

Sekaligus saya menentukan sendiri ukuran pencapaian untuk diri sendiri sehingga selalu lebih tinggi dari ukuran yang ditetapkan oleh Bos untuk diri saya.

Kita Semua Punya Masalah

Suatu hari si Joe menerima sebuah telepon yang memintanya untuk pergi ke suatu tempat dengan segera karena ada masalah.

Belum sempat satu masalah diselesaikan, muncul telepon berikutnya yang memintanya pergi ke lain tempat karena juga ada masalah lain. Belum sempat masalah satu dan masalah kedua dikerjakan, sudah muncul telepong ketiga, keempat dan kelima yang memintanya pergi ke tempat yang berbeda pula.

Tahu-tahu, si Joe sudah berada dalam sebuah taksi dan si Joe tak mampu menjawab sebuah pertanyaan yang paling sederhana "pak Joe mau kemana?"

"Terserah kamu saja, kemanapun saya pergi pasti sudah ada masalah menunggu saya di tempat itu" Keluh pak Joe.

Seringkali kita terjebak pada sebuah situasi dimana masalah ada di mana-mana dan memerlukan diri kita!

Sabar . . .

Seringkali orang perlu mengubah perspektif mereka dan bukan pada masalah mereka.

Jangan-jangan anda sebenarnya tak punya masalah apa-apa hanya perasaan anda yang mengatakan anda punya masalah.

Katakan "tidak" kepada siapapun penelepon anda jika anda yakin itu bukan masalah yang perlu untuk anda selesaikan atau anda tak mungkin menyelesaikan masalah tersebut.
Sebaliknya selesaikan masalah tersebut sebaik-baiknya jika anda yakin itu memang patut untuk diselesaikan karena hanya dengan cara itu diri kita akan semakin berkualitas.

Ini merupakan hukum alam, masalah dan hambatan adalah syarat menuju sukses. Bekerja tanpa masalah berarti hanya "keberuntungan" semata. Anda hanya akan menjadi orang beruntung dan bukan orang sukses.

Jika kita cenderung untuk menyingkirkan dan menghindari masalah serta tanggung jawab maka anda sedang mendorong diri menjadi "jongos" untuk kehidupan ini.

Ada seorang pemuda gagah bertanya kepada seorang kakek tua "Kakek, apa sesungguhnya beban kehidupan yang paling berat?"
Kakek tua itu dengan sedih menjawab "yang paling berat adalah jika kita sudah tak punya apapun untuk dipikul".

Masalah Saya Bukan Masalah Saya

Ada perbedaan besar antara seseorang yang punya masalah besar dan seseorang yang membesar-besarkan masalah.

Pada beberapa kesempatan rekan-rekan yang menemui saya karena merasa punya masalah selalu saya arahkan dengan cara kekanak-kanakan untuk menemukan masalah lain.

Sebenarnya saya sedang berusaha mencarikan mereka jalan keluar dengan cara menemukan masalah lain yang lebih patut untuk diselesaikan.

Seringkali orang merasa punya masalah padahal bukanlah masalah yang sesungguhnya.

Yang menjadi masalah adalah bahwa mereka bereaksi secara salah terhadap sebuah masalah dan dengan demikian menjadikan masalah tersebut sebagai masalah yang sesungguhnya untuk mereka. Mereka ini sering "terbelenggu" dengan sebuah kenyataan "apa yang terjadi terhadap diri saya" dari pada "apa yang terjadi dalam diri saya".

Pertanyaan "positif"nya begini . . .

Mengapa banyak orang berprestasi bisa mengatasi masalah mereka sementara banyak yang lain dikalahkan oleh masalah mereka sendiri?

Orang berprestasi memang menganut dalil yakni mengubah "batu penyandung" menjadi "batu pijakan".

Mereka memang menyadari tak bisa menetapkan semua keadaan untuk kehidupan mereka namun mereka telah terbiasa menetapkan "pilihan" sikap terhadap keadaan apa saja.

Tirulah sikap Tukang Reparasi yang selalu "tersenyum" setiap kali ada masalah.

Kita memang dapat juga bersikap pasrah dan apatis terhadap masalah namun berhati-hatilah karena orang lain akan datang membawa solusinya dan anda akan semakin tersisih bergumul dengan masalah yang tak kunjung selesai.

Ada 2 orang pasien terbaring di Rumah Sakit. Mereka menempati kamar rawat inap yang sama. Yang satu menghadap jendela dan yang satu hanya menghadap tembok.

Setiap pagi, pasien yang berada di sisi jendela berusaha menghibur rekannya yang tergolek di sebelahnya dengan menceritakan betapa indah pemandangan di luar. Ia ceritakan banyak mobil lal-lalang, lalu para pengunjung yang cantik cantik dan lucu, taman sebelah yang hijau dan cuaca yang indah pagi ini.

Pasien yang tidur menghadap tembok termenung dan mulai berpikir betapa tak adilnya RS ini menempatkannya di sisi yang tanpa jendela. Setiap hari ia meratapi dalam hati mengapa bukan ia yang tidur menghadap jendela.

Suatu pagi, temannya tak lagi berceloteh mengenai pemandangan indah di luar. Ia sudah meninggal selamanya karena tak kuasa menahan sakit yang tak kunjung tersembuhkan.

Rekan ini segera saja meminta kepada perawat "Suster, bolehkah saya pindah ke tempat tidur sebelah?"

Ia terperanjat bukan kepalang ternyata jendela itu hanya menghadap sebuah tembok besar warna putih dan kosong!

Berpikir positip memang tak selalu dapat mengubah keadaan namun setidaknya dapat merubah diri kita lebih baik. Jika kita berpikir secara benar tantang situasi yang sulit maka Insyallah perjalanan kita melalui kehidupan ini akan menjadi lebih baik.

Selamat Tahun Baru dengan Semangat Baru dan Salam Sukses.

Suwun,
NV

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tulisan di atas kemudian diberi komentar oleh sahabat sbb:
 
Assalamualaikum capt..., apakah anda sekarang beralih profesi menjadi dukun ?...
Gusnug, 6 Januari 2010

Kemudian, (penulis komentar dibawah ini telah almarhum, seorang sahabat bernama Soedjoeri Widodo)
Mas Novan dan teman2 lainnya;

Tergelitik saya ingin menanggapi apa yang ditulis oleh mas Novan tsb.
Kita bisa setuju, juga bisa tidak setuju dengan apa2 yang ditulis oleh mas Novan tersebut. Yang membuat kita adalah mahluk yang termulia di dunia ini adalah karena kita mempunyai kebebasan memilih atas apa yang ingin perbuat. Dan memang hidup ini adalah bagaimana kita me-respon atas stimulus yang kita terima dari luar. "Hidup ditentukan oleh 90% bagaimana kita ber-reaksi terhadap hal2 yang datang ke kita, dan 10% adalah murni inisiatif diri". Jadi kualitas hidup kita sangat ditentukan oleh bagaimana pilihan tindakan yang kita ambil.
Mas Novan mengambil sikap positif terhadap hal2 yang datang pada dirinya, orang lain mungkin bisa mengambil sikap negatif sehingga bawaannya akan curiga saja, atau bisa ber-ubah2 kadang2 positif kadang2 negatif. Hak dia untuk bersikap seperti itu.
Kemudian siapa yang berhak mengatakan "kemandegan". Mestinya ya dirinya sendiri, bukan oranglain. Bisa saja orang luar memandang itu sebagai kemandegan; yang paling penting adalah diri sendiri memandang itu kemandegan atau bukan. Being excellence is not how good we compare with others, but with ourselves yesterday.
Kalau saya flashback awal tahun 2009 dan awal 2010, pekerjaan saya tetap sebagai trainer, puaskah saya? Apakah saya mandeg? Saya puas, dan saya tidak merasa mandeg, karena saya merasa I am better now compared dengan awal 2009; meskipun saya juga evaluasi diri dan berpendapat I can still do better.
Karena itu, semuanya berpulang pada diri sendiri, bagaimana kita menetapkan dasar pola pandang kita, bagaimana kita ber-reaksi yang lebih ber-kualitas terhadap stimulus yang kita terima, dan bagaimana kita selalu (seperti yang dikatakan mas Novan) men-syukuri apa yang kita capai atau miliki.

Have a very brighter day today.

salam
Juri
, 6 Januari 2010

1 comment:

  1. Artikel Baguss....
    Konflik terutama dalam organisasi tidak bisa dihindari, namun tidak semua konflik itu buruk, ada kalanya konflik mampu menghasilkan solusi terbaik dari sekian banyak perbedaan pendapat.
    Sekedar ingin berbagi, barangkali bisa sedikit menambah referensi mengenai manajemen konflik.
    Klik --> Makalah Manajemen Konflik

    ReplyDelete