Thursday, February 2, 2012

OH, DOMPETKU DITEMUKAN

OH, DOMPETKU DITEMUKAN

Sekelompok petugas dengan seragam masing-masing bersiap menyongsong dibawah panas terik sebuah pesawat McDonnel Douglas DC-9 memasuki apron Bandar Udara Kemayoran awal tahun 1985.

Suasana kerja kurun waktu itu, sungguh sangat berbeda dengan apa yang kita saksikan hari ini dalam rutinitas operasional di Bandara.

Belum lagi penumpang terakhir turun dari pintu belakang dan pintu depan pesawat, pasukan “Blue Thunder” sudah berebutan berusaha memasuki pesawat dari kedua pintu. Sementara itu, para pramugari tergesa-gesa mengumpulkan koran-koran agar dapat dipergunakan kembali untuk penerbangan berikutnya sambil memeriksa barang-barang penumpang yang tertinggal sebelum ditemukan oleh pasukan “Blue Thunder”. Pramugari lain juga bergegas “menyelamatkan” isi pantry sebelum jadi barang rebutan massal.
Nyaris tak ada yang memperdulikan kehadiran petugas Satpam berseragam yang berdiri di pintu depan. Sebaliknya petugas Satpam tanpa risi memperhatikan itu semua sambil menggenggam koran yang dilipat layaknya sebuah pentungan.

Begitulah suasana kerja kala itu.

Cabin One (CA1 = sekarang FSM) menghampiri Copilot yang baru saja keluar dari Cockpit sambil meregangkan badan untuk melepaskan sedikit rasa penat setelah 2 jam terbang dari Ujung Pandang.
“Mas, ini saya temukan dompet penumpang di kursi 6A” kata CA1 seraya menyerahkan dompet tersebut ke Copilot. Mas Copilot ini agak terpana menerima sebuah dompet jinjing yang cukup tebal tanpa dapat mengetahui siapa pemiliknya karena Manifest Penumpang telah diturunkan oleh petugas darat.

Prosedur yang diketahui kala itu adalah setiap barang temuan milik penumpang harus diserahkan ke petugas Satpam yang pada saat bersamaan sedang menyisir area bagian belakang kabin pesawat.
Namun Mas Copilot meminta CA1 untuk turut menyaksikan dan Mas Copilot membuka dompet tersebut untuk mengetahui nama si empunya. Alangkah terperanjatnya, dompet itu berisi uang sepuluh ribuan Yen setebal kira-kira 2 cm yang diketahui milik tuan Nakajima warga Negara Jepang.
Tanpa pikir panjang Mas Copilot segera menuruni tangga pesawat dan berlari mengejar penumpang Nakajima dengan harapan masih berada di sekitar Terminal Kedatangan. Sebagai catatan jarak pesawat parkir ke Terminal sekitar 150 meter menyeberangi apron.

Suasana Terminal Kedatangan Kemayoran kala itu ramai seperti pasar dan tak jelas betul mana penumpang dan yang mana para penjemput. Sambil “celingak-celinguk” Mas Copilot berusaha mencari tahu lokasi terdekat tempat penumpukan bagasi eks Ujung Pandang dengan harapan dapat menemukan tuan Nakajima.

“Excuse me, ......... Mister Nakajimaaaaaaaaaa..................... I am looking for Mister Nakajima passenger of Garuda Indonesia from Ujung Pandang!” demikian teriak Mas Copilot ditengah kerumunan penumpang seraya mengacungkan dompet keatas.

Dua orang warga Jepang mendekati Mas Copilot “hai .......... I am Nakajima” kata keduanya nyaris bersaman.
Mas Copilot membuka dompet tersebut pelan-pelan untuk mengambil Paspor di dalamnya sambil disaksikan kedua Nakajima “We found this wallet in the seat pocket 6A”.

Setelah mengamati dan mencocokkan foto Paspor dengan wajah kedua Nakajima, Mas Copilot menyerahkan dompet tebal tersebut kepada salah satu Nakajima “Ok, I give it back to you, please check and you are the witness (sambil menunjuk Nakajima yang lain), my name Copilot ...................” seraya menunjukkan nama dalam ID Card Mas Copilot.

Tuan Nakajima membungkuk dalam-dalam seraya menyampaikan terima kasih berulang-ulang serta berjanji akan menjaga dompetnya baik-baik agar tak tertinggal lain waktu. Wajahnya menunjukkan rasa lega dan haru karena tak ada yang hilang dari dalam dompetnya, salah satunya Paspor!

Sesampai di pesawat, para pramugari mengerumuni Mas Copilot “Mas, dikasih berapa...........?”

Mas Copilot hanya membungkuk dalam ke arah para pramugari yang antusias mengerumuninya karena ia memang hanya hanya diberi imbalan ucapan terima kasih oleh tuan Nakajima, dan itu sudah lebih dari cukup meski gaji waktu itu hanya Rp. 139.000 per bulan.

Pesan Moral:
Mas Copilot memang tidak menyerahkan dompet temuan tersebut ke petugas Satpam sebagaimana diatur dalam prosedur semata-mata karena kurang yakin apakah barang berharga tersebut dapat sampai ke empunya dalam kondisi utuh tanpa kurang apapun atau dengan kata lain, prosedur yang ada kurang sesuai untuk situasi saat itu (Customer Centricity = Y).

Dengan segera mengidentifikasi dan berlari menemui tuan Nakajima yang barangkali masih di sekitar Terminal Kedatangan maka sekaligus memastikan barang berharga tersebut sampai pada si empunya tanpa kurang apapun (Efficient & Effective = F). Dan tanpa harapan akan menerima imbalan apapun dari siapapun (Loyal = L).

Barang itu utuh sampai tujuan dan dengan jujur menyatakan secara apa adanya bahwa ia tak menerima imbalan apapun dari tuan Nakajima kepada kawan-kawan Pramugari (Honest = H dan Integrity = I)

Catatan:
•    Pasukan “Blue Thunder” adalah sebutan untuk petugas Cleaning Service yang berseragam biru tua waktu itu
•    Cerita ini hasil cuplikan kisah nyata.  
        
Jakarta, 4 Maret 2008

No comments:

Post a Comment